Asal-usul Istilah Debat Kusir dari Anekdot Haji Agus Salim Naik Delman

- Minggu, 24 Mei 2026 | 09:30 WIB
Asal-usul Istilah Debat Kusir dari Anekdot Haji Agus Salim Naik Delman

Istilah “debat kusir” kerap digunakan untuk menggambarkan pertengkaran yang tidak kunjung menemukan titik terang, berputar-putar tanpa substansi yang jelas. Namun, sedikit yang mengetahui bahwa ungkapan ini lahir dari sebuah anekdot ringan yang melibatkan tokoh ulama dan diplomat kenamaan, Haji Agus Salim, dalam perjalanan naik delman. Kisahnya bermula dari peristiwa sederhana yang justru melahirkan istilah yang bertahan hingga kini.

Suatu hari, Agus Salim tengah menaiki delman yang dikemudikan oleh seorang kusir. Di tengah perjalanan, kuda penarik delman itu tiba-tiba buang angin. Menyaksikan hal itu, Agus Salim melontarkan komentar ringan. “Kasihan ya, kudanya masuk angin,” ujarnya.

Namun, sang kusir tidak sepakat. Ia membantah pernyataan tersebut dengan tegas. “Tidak, kuda aku keluar angin,” balasnya.

Agus Salim kemudian mencoba meluruskan, “Iya, itu artinya masuk angin.” Akan tetapi, kusir itu tetap pada pendiriannya. “Tidak, itu artinya keluar angin,” jawabnya lagi.

Perdebatan soal apakah kuda itu “masuk angin” atau “keluar angin” itu terus berlanjut tanpa henti hingga delman tiba di tujuan. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah atau mencari kesepakatan. Dari pengalaman itulah Agus Salim kemudian menciptakan istilah “debat kusir” sebagai sindiran terhadap perdebatan yang tidak produktif dan hanya berkutat pada hal remeh.

Istilah ini tidak hanya berhenti sebagai lelucon pribadi. Agus Salim kerap menggunakannya dalam berbagai forum, termasuk dalam momen-momen penting yang menentukan nasib Republik Indonesia. Dalam salah satu sidang, ia mengingatkan para peserta agar tidak terjebak dalam debat kusir yang hanya membuang waktu. Para peserta yang awalnya bingung kemudian mendengar langsung anekdot tersebut dari Agus Salim. Sejak saat itu, istilah debat kusir menyebar luas dan terus digunakan hingga sekarang sebagai pengingat akan bahaya perdebatan yang tidak berdasar.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar