Sapi Umbaraan Asal Bima Laris Manis, Pedagang Datangkan Tambahan 20 Ekor Jelang Idul Adha

- Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:00 WIB
Sapi Umbaraan Asal Bima Laris Manis, Pedagang Datangkan Tambahan 20 Ekor Jelang Idul Adha

Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, sapi-sapi kurban milik Muhammad Said nyaris ludes terjual. Pria berusia 34 tahun itu mendatangkan 85 ekor sapi dari kampung halamannya di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan kini hanya tersisa dua ekor di lapaknya.

Said menjelaskan bahwa sapi yang ia jual berbeda dengan sapi ternak pada umumnya. Di Bima, sapi-sapi tersebut tumbuh dengan cara tradisional yang dikenal dengan istilah sapi umbaran, yakni dibiarkan berkeliaran bebas di alam terbuka. “Ya dilepas, umbaran itu namanya dilepas di gunung, di dekat kaki Gunung Tambora itu kan banyak itu ribuan ekor. Nah ada beberapa orang yang punya itu diumbar saja,” katanya saat ditemui di lapak hewan kurban di pinggir Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, pada Sabtu (23/5/2026).

Merawat sapi, menurut Said, sudah menjadi kesehariannya sejak lama. Tantangan terbesar dalam bisnis penjualan sapi kurban, lanjutnya, bukanlah perawatan, melainkan perjalanan panjang dari Bima menuju Jakarta yang harus ditempuh bersama puluhan ekor sapi. Perjalanan itu memakan waktu lima hingga tujuh hari. Sapi-sapi diangkut menggunakan truk tronton besar melalui rute Bima, Sumbawa, hingga Mataram.

Dari Mataram, Said dan rombongan sapi menyeberangi lautan menuju Banyuwangi. Setelah itu, perjalanan darat kembali dilanjutkan hingga tiba di Ibu Kota. “Penyeberangannya itu yang sulit. Karena kapal yang dioperasionalkan di situ terbatas, hanya berapa kapal gitu kan. Nah kalau kapalnya banyak, pasti cepat kitanya,” terangnya. Selama di atas tronton, Said harus memastikan kesehatan sapi-sapinya dengan memberi makan dan minum secara rutin.

Said mengaku awalnya hanya membawa 65 ekor sapi untuk menyambut Idul Adha tahun ini. Namun, tingginya antusiasme pembeli mendorongnya untuk mendatangkan tambahan 20 ekor dari teman dan saudaranya di Bima. “Awalnya 65 ekor, sampai hari ini sudah masuk 85 ekor di saya. Ngambil lagi di tempat teman, saudara gitu kan, banyak,” ucap pria yang telah 15 tahun berjualan sapi menjelang Idul Adha ini.

Ia menjual sapi kurban untuk semua kalangan, mulai dari harga ekonomis hingga yang kerap disebut “kelas sultan.” “Nah, kalau di bobot yang paling terkecil itu 210 kilogram yang harga Rp14 juta. Kalau yang harga tertinggi nih di Rp80 juta, bobotnya 800 kilogram lebih,” jelas Said. Kini, ia berharap dua ekor sisa sapi umbaran di lapaknya segera menemukan pembeli. “Pasti laku,” ucapnya optimistis.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar