Seluruh relawan Global Sumud Flotilla (GSF) telah tiba di Istanbul, Turki, setelah menjalani proses deportasi dari Israel. Salah seorang dari mereka, Julien Cabral (57), warga negara Belgia, menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya selama ditahan oleh otoritas Israel.
Cabral berlabuh dengan kapal kecil bersama enam orang lainnya, yang terdiri dari warga negara Italia, Malaysia, Finlandia, Kanada, Afrika Selatan, dan satu warga Belgia lainnya. Peristiwa penangkapan terjadi pada Senin (18/5), ketika sekitar sepuluh anggota pasukan Israel mencegat kapal mereka di perairan internasional, lebih dari 500 kilometer atau sekitar 310 mil dari pantai Israel.
“Mereka pertama-tama mengganggu komunikasi, kemudian naik ke kapal di siang bolong dengan senjata dan menembakkan peluru plastik hanya untuk bersenang-senang,” kata Cabral. Ia menambahkan bahwa kapal mereka merupakan kapal keduabelas yang dicegat dalam operasi serupa. “Kami terkejut. Ada banyak kapal korvet di sekitar kami. Mereka bergerak maju dengan sangat agresif meskipun kami semua mengangkat tangan ke atas,” sambungnya.
Situasi semakin memburuk ketika Cabral tiba-tiba dipukul oleh seorang tentara Israel. Akibat pukulan tersebut, area di sekitar matanya tampak membengkak dan memar kebiruan. “Saya adalah wakil komandan di kapal itu. Kapten kami, seorang Italia, masih berdiri dan mereka langsung menargetkannya. Saya dipukul di pelipis kiri,” cerita Cabral.
Artikel Terkait
Pengemudi di Cibubur Jadi Tersangka Usai Pengeroyokan yang Dipicu Klakson Mobil
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia, 22 Mei 2026
Pemerintah dan DPR Berhasil Pulangkan Sembilan WNI Relawan Global Sumud Flotilla yang Ditahan Israel
Negara ASEAN Percepat Pengembangan Sistem Pertukaran Data Perdagangan ASEAN Single Window