Prabowo: Pengelolaan Ekonomi RI Sudah Dirumuskan Pendiri Bangsa, Jangan Terlalu Kagum pada Negara Perampas

- Rabu, 20 Mei 2026 | 11:15 WIB
Prabowo: Pengelolaan Ekonomi RI Sudah Dirumuskan Pendiri Bangsa, Jangan Terlalu Kagum pada Negara Perampas

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pengelolaan ekonomi Indonesia telah memiliki cetak biru yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa, sebuah kerangka yang lahir dari pengalaman panjang perjuangan kemerdekaan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidatonya pada rapat paripurna ke-19 masa persidangan V tahun sidang 2025-2026 di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/5/2026). Dalam kesempatan itu, Prabowo mengawali paparannya dengan mengulas pengalaman historis para pendiri bangsa yang pernah merasakan pahitnya penjajahan.

“Tentang pengelolaan ekonomi negara kita, sesungguhnya telah dirumuskan oleh para pendiri-pendiri bangsa kita. Para pendiri-pendiri bangsa kita bukan orang-orang yang lugu atau naif. Mereka merasakan penjajahan, mereka merasakan dijajah,” ujar Prabowo di hadapan para anggota dewan.

Lebih jauh, Kepala Negara menyebut bahwa para pendiri bangsa tidak hanya mengalami penjajahan secara fisik, tetapi juga menyaksikan secara langsung praktik imperialisme yang merendahkan martabat bangsa Indonesia. Bahkan, menurut dia, harga diri bangsa saat itu ditempatkan lebih rendah dibandingkan dengan hewan.

“Mereka merasakan bahwa bangsa Indonesia ditempatkan derajatnya di bawah anjing. Mereka melihat dan merasakan kekayaan Nusantara ratusan tahun diambil oleh penjajah-penjajah,” tuturnya.

Di sisi lain, Prabowo mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak terlalu mengagumi negara-negara yang membangun kekayaannya melalui perampasan sumber daya bangsa lain. Ia juga menyoroti sikap negara-negara maju yang kerap mengajarkan nilai-nilai tertentu, namun tidak menjalankannya sendiri.

“Hendaknya janganlah kita terlalu kagum kepada bangsa-bangsa yang kayanya dari merampas kekayaan bangsa-bangsa lain,” ucap dia.

“Janganlah kita rendah diri, janganlah kita selalu mengagumi apa yang mereka ajarkan kepada kita, padahal mereka sendiri tidak menjalankan apa yang mereka ajarkan kepada kita,” tambahnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar