Setiap tahun, dunia memperingati Hari Tari Internasional sebagai bentuk apresiasi terhadap seni gerak yang menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban manusia. Momen ini tidak hanya menjadi perayaan atas keberagaman ekspresi dan tradisi tari dari berbagai belahan dunia, tetapi juga menjadi pengingat akan kekayaan warisan budaya, termasuk Indonesia yang memiliki ribuan ragam tari tradisional.
Indonesia menyimpan kekayaan tari yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Setiap daerah memiliki karakter, makna, dan latar budaya yang berbeda, menjadikan tarian bukan sekadar pertunjukan visual. Lebih dari itu, tarian berfungsi sebagai medium untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan, catatan sejarah, hingga cara pandang masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Di Bali dan Nusa Tenggara, misalnya, tarian merefleksikan perpaduan antara spiritualitas dan nilai-nilai sosial yang mengakar kuat. Sementara itu, Pulau Jawa dan Kalimantan menghadirkan tarian yang sarat akan narasi dan identitas budaya. Di kawasan timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua, tarian menjadi ekspresi yang erat kaitannya dengan ritual dan keseharian masyarakat. Adapun di wilayah Sumatera, tarian yang berkembang umumnya bersifat historis dan mengandung nilai kolektif yang kuat.
Keberagaman tersebut menjadi kekuatan yang merajut harmoni dan memperkuat identitas bangsa dalam bingkai kebinekaan. Tarian tradisional tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, melainkan juga sebagai entitas yang terus hidup dan berkembang mengikuti dinamika zaman.
Tahun ini, Bakti Budaya Djarum Foundation turut merayakan Hari Tari Sedunia melalui pertunjukan yang mengangkat lagu dan koreografi Indonesia Menari 2025. Pertunjukan ini menghadirkan kolaborasi antara unsur tradisional dan kontemporer, sekaligus memberikan ruang bagi kreativitas generasi muda untuk terus berkarya.
Sebanyak 120 penari terlibat dalam persembahan tersebut, dengan lebih dari 80 di antaranya merupakan pemenang ajang Indonesia Menari 2025. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa tari tradisional Indonesia tetap relevan dan mampu berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Koreografer Bathara Saverigadi Dewandoro menjelaskan bahwa proses koreografi dilakukan dengan meramu esensi gerak seperti pola tangan, posisi jari, hingga karakter tubuh yang menjadi identitas tiap daerah, tanpa mengacu pada satu karya tertentu.
“Pendekatan ini bertujuan memperkenalkan kekayaan detail dalam tradisi, termasuk perbedaan halus yang sering luput, seperti teknik ukel yang memiliki karakter berbeda di tiap daerah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (18/5/2026).
“Melalui koreografi ini, saya juga ingin menyoroti kompleksitas koordinasi tubuh dalam tari tradisi Indonesia, khususnya pada detail tangan yang sangat kaya dan presisi,” sambungnya.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap segmen musik yang digunakan diterjemahkan melalui pendekatan gerak berbasis idiom daerah. “Secara spesifik, ‘Sinanggar Tulo’ mengadaptasi nuansa somba dan gaya manortor dari Sumatera Utara, Betawi diolah dari ragam dasar tari tradisionalnya, sementara ‘Indung-Indung’ mengembangkan gerak kancet dalam beberapa variasi. ‘Anging Mammiri’ terinspirasi dari gaya Tari Pakarena, Jawa Timur menghadirkan gerak-gerak ikonik tari kerakyatan, dan Jawa Barat melalui ‘Cing Cangkeling’ mengusung karakter gaya Priangan,” jelasnya.
“Sementara itu, ‘Ya Salam’ merujuk pada ragam Melayu Sumatera Selatan, ‘Cublak-Cublak Suweng’ mengolah dasar gerak Jawa Tengah, ‘Si Patokaan’ menonjolkan pola kaki sederhana dari tari ceremonial dalam masyarakat di Sulawesi Utara, dan ‘Rasa Sayange’ menghadirkan semangat kawasan Indonesia Timur dengan dominasi eksplorasi gerak kaki,” tutupnya.
Artikel Terkait
Gubernur Malut Sebut Kemiskinan Petani dan Nelayan Akibat Kebijakan Abaikan Infrastruktur
Menteri Kebudayaan: Museum Harus Jadi Ruang Publik yang Menyatukan Perbedaan di Tengah Fragmentasi Global
Pemprov DKI dan Polda Metro Jaya Teken MoU Integrasikan 24 Ribu CCTV untuk Keamanan Ibu Kota
NasDem Instruksikan Kader Jaga Etika Komunikasi dan Hindari Pernyataan Asal Bunyi