Iran Tolak Dominasi Sepihak AS, Tegaskan Dunia Tak Boleh Dikuasai Kekuatan yang Abaikan Hukum Internasional

- Selasa, 12 Mei 2026 | 07:45 WIB
Iran Tolak Dominasi Sepihak AS, Tegaskan Dunia Tak Boleh Dikuasai Kekuatan yang Abaikan Hukum Internasional

Iran menegaskan bahwa tatanan dunia tidak boleh lagi dikuasai oleh satu kekuatan sepihak yang mengabaikan norma-norma internasional. Pernyataan tegas itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers di Teheran pada Senin, 11 Mei, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut muncul setelah Teheran memberikan proposal balasan kepada Washington, yang kemudian ditolak oleh Presiden AS Donald Trump. Baghaei menekankan bahwa dunia tidak seharusnya berada di bawah dominasi satu kekuatan yang mengesampingkan hukum dan kesepakatan global yang telah diakui.

“Dunia tidak seharusnya didominasi oleh satu kekuatan sepihak yang mengabaikan norma-norma internasional yang diakui,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Baghaei juga menuduh Amerika Serikat telah merusak kredibilitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa Iran tetap berpegang pada kepentingan nasionalnya setelah menyampaikan tanggapan terhadap proposal AS yang bertujuan mengakhiri konflik melalui mediasi Pakistan.

“Satu-satunya hal yang kami tuntut adalah hak-hak sah Iran,” kata Baghaei.

“Kami tetap fokus pada kepentingan nasional Iran. Kami akan bertindak dengan cara apa pun yang diperlukan sesuai keadaan demi mengejar kepentingan tersebut,” lanjutnya.

Sementara itu, di hari yang sama, Trump menilai respons Iran sebagai sesuatu yang “benar-benar tidak dapat diterima.” Ia juga menyatakan tengah mempertimbangkan untuk kembali melanjutkan “Freedom Initiative,” sebuah kebijakan yang sebelumnya sempat dihentikan.

Ketegangan antara kedua negara semakin memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan tersebut, yang kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan terhadap Israel dan sejumlah negara Teluk.

Pada 8 April, Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan untuk membuka ruang negosiasi menuju penyelesaian konflik. Masa gencatan senjata itu kemudian diperpanjang tanpa batas waktu yang jelas hingga Iran menyerahkan proposalnya. Putaran pertama negosiasi antara kedua negara berlangsung di Islamabad pada 11 April, namun belum menghasilkan kesepakatan.

Sejak saat itu, Iran memberlakukan pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz, sementara Angkatan Laut AS tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran meskipun gencatan senjata masih berlaku. Situasi ini menunjukkan bahwa jalan menuju diplomasi masih terjal dan penuh ketidakpastian.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar