UPH Gelar Hospitour 2026, Jembatani Kesenjangan Pendidikan dan Kebutuhan Industri Perhotelan

- Selasa, 05 Mei 2026 | 21:30 WIB
UPH Gelar Hospitour 2026, Jembatani Kesenjangan Pendidikan dan Kebutuhan Industri Perhotelan

Dunia kerja di sektor perhotelan dan pariwisata saat ini tidak lagi hanya menuntut penguasaan teori dari bangku kuliah. Industri menginginkan lulusan yang memiliki keterampilan praktis dan kemampuan beradaptasi tinggi, siap terjun langsung ke lapangan sejak hari pertama bekerja. Kondisi ini mendorong perguruan tinggi untuk menggeser pendekatan pembelajaran, dari yang semula berfokus pada hafalan konsep menuju pengalaman nyata yang relevan dengan kebutuhan industri.

Berbagai kampus pun mulai menghadirkan ruang belajar yang lebih aplikatif, baik melalui kompetisi, kolaborasi dengan pelaku usaha, maupun program pengabdian kepada masyarakat. Salah satu contohnya adalah inisiatif Fakultas Hospitality dan Pariwisata Universitas Pelita Harapan (FHospar UPH) yang menggelar Hospitour 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai wadah untuk mengasah kompetensi mahasiswa agar lebih siap bersaing di dunia kerja.

Dalam ajang tersebut, mahasiswa tidak hanya diuji melalui perlombaan, tetapi juga didorong untuk memahami dinamika industri secara langsung. Dosen FHospar UPH sekaligus Ketua Panitia, Nonot Yuliantoro, menjelaskan bahwa pendekatan ini penting untuk membentuk lulusan yang relevan dengan kebutuhan pasar.

“Mulai dari pengembangan produk, pelayanan pelanggan, hingga inovasi berbasis tren pariwisata dan teknologi menjadi bagian dari pembelajaran,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (5/5/2026).

Nonot menambahkan bahwa Hospitour bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wadah kolaboratif dan edukatif untuk mengembangkan wawasan, keterampilan, serta profesionalisme di bidang hospitality dan pariwisata. Menurutnya, gelaran ini sudah menjadi rutinitas bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan mereka di luar kelas.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Hospitour 2026, Vincentia Nayla, menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan, termasuk integrasi teknologi dalam sektor pariwisata. Ia mengusung tema EVOLVE untuk mendorong peserta terus berinovasi.

“Melalui tema EVOLVE, kami ingin mendorong peserta untuk terus beradaptasi dan berinovasi, khususnya dalam mengembangkan potensi lokal yang terintegrasi dengan teknologi,” jelas Nayla.

Ajang ini melibatkan ratusan peserta dari berbagai jenjang, mulai dari siswa SMA/SMK, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Puluhan kategori kompetisi dihadirkan untuk mencerminkan kebutuhan riil industri, mulai dari layanan hotel hingga kreativitas kuliner dan minuman. Kolaborasi dengan pelaku industri menjadi kunci agar peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga mendapatkan standar dan pengalaman yang sesuai dengan dunia kerja.

“Dengan begitu, kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri bisa dipersempit,” ungkap Nayla.

Tak berhenti di kompetisi, kegiatan ini juga diperkuat dengan program pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dan dosen terlibat dalam pelatihan keterampilan praktis, pengembangan produk lokal, serta edukasi pariwisata bagi masyarakat di Tangerang. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kesiapan kerja tidak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan masyarakat dan industri.

“Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan global,” tegas Nayla.

Melalui model pembelajaran yang terintegrasi ini, kampus berupaya memastikan lulusan tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu berinovasi dan menciptakan dampak positif bagi sektor pariwisata dan perhotelan di masa depan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar