AHY: Literasi Politik Benteng Generasi Muda Cegah Perebutan Kekuasaan oleh Figur Tak Kompeten

- Selasa, 05 Mei 2026 | 13:35 WIB
AHY: Literasi Politik Benteng Generasi Muda Cegah Perebutan Kekuasaan oleh Figur Tak Kompeten

Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan urgensi literasi politik bagi generasi muda sebagai benteng untuk mencegah kekuasaan direbut oleh individu yang tidak kompeten. Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam forum diskusi siswa SMA di Cirendeu, Tangerang Selatan, pada Selasa (5/5/2026). Menurutnya, pemahaman terhadap politik bukan sekadar wawasan, melainkan kebutuhan mendasar untuk membangun nalar kritis di tengah derasnya arus informasi.

Dalam forum bertajuk RenTalks itu, AHY menjelaskan bahwa menjauh dari politik sama artinya dengan membiarkan panggung kekuasaan diisi oleh mereka yang minim kompetensi dan integritas. “Karena tanpa memahami politik, apalagi menjauh dari politik, kita sama saja membiarkan politik dikuasai dan dipunggawai oleh mereka yang tidak memiliki kompetensi dan juga tidak memiliki integritas,” ujar Ketua Umum Partai Demokrat tersebut.

Lebih lanjut, ia mendorong anak muda untuk tetap memegang idealisme meskipun seringkali dihadapkan pada realitas politik yang keras. AHY bahkan mengakui bahwa dirinya pernah merasa skeptis dan antipati terhadap politik Indonesia. “Dulu saya antipati, dulu saya juga skeptis melihat politik. Saya menganggap dulu ah politik itu serba kotor, kemudian menghalalkan segala cara, apapun boleh kecuali kalah, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Namun, pandangan itu berubah setelah ia mempelajari politik secara lebih mendalam. “Ternyata, setelah saya pelajari, justru kita bisa berbuat banyak jika kita menjadi bagian untuk melakukan perubahan itu. Mudah-mudahan dari ruangan ini juga pada akhirnya hadir para politisi yang menjadi pemimpin di negara kita tercinta,” imbuh dia.

Di sisi lain, AHY juga mengingatkan para siswa untuk lebih kritis dalam menyaring informasi dan fenomena di era digital. Ia menyoroti penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) dan platform digital untuk tujuan negatif, seperti penyebaran hoaks dan politik pasca-kebenaran yang memecah belah. “Kalian adalah generasi yang sangat dekat dengan itu, maka harus di-leverage untuk kemajuan. Termasuk dalam membangun opini yang positif, melawan hoaks, melawan post-truth politics yang memecah belah,” katanya.

Melalui forum tersebut, AHY berharap kegiatan serupa dapat terus mengasah daya kritis generasi muda agar tidak mudah terombang-ambing oleh informasi yang menyesatkan. “Kita harus terus mengasah daya kritis kita,” tegasnya menutup sesi diskusi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar