BUMI Ekspansi ke Tambang Tembaga dan Emas, Targetkan Laba Tak Lagi Bergantung pada Batu Bara

- Selasa, 05 Mei 2026 | 15:00 WIB
BUMI Ekspansi ke Tambang Tembaga dan Emas, Targetkan Laba Tak Lagi Bergantung pada Batu Bara

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah menjadi perhatian investor setelah perusahaan yang dikenal sebagai penghasil batubara terbesar di Indonesia itu mulai melancarkan ekspansi ke segmen bisnis non-batubara. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi mengembangkan platform pertambangan multi-komoditas yang lebih terdiversifikasi.

Selama ini, BUMI identik dengan produksi batubara melalui anak-anak usahanya. Namun dalam setahun terakhir, upaya perusahaan untuk mendiversifikasi pendapatan dan laba ke luar sektor batubara semakin nyata. Dalam jangka menengah, struktur laba BUMI ditargetkan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada batubara. Manajemen menargetkan EBITDA perseroan dapat seimbang antara kontribusi bisnis batubara dan non-batubara.

Untuk mencapai target tersebut, BUMI melakukan serangkaian akuisisi strategis. Pada akhir 2025, perusahaan mengamankan tambang tembaga Wolfram serta tambang emas Jubilee Metals. Kedua aset itu diproyeksikan mulai beroperasi pada Agustus 2026.

Menurut Analis Sinarmas Sekuritas, Kenny Shan, Wolfram memiliki daya tarik dari sisi nilai ekonomi proyek. Selain menghasilkan tembaga, tambang ini juga memproduksi emas dan perak sebagai produk sampingan, sehingga memberikan diversifikasi sumber pendapatan.

“Dengan kapasitas produksi mencapai 20.000 ton konsentrat tembaga per tahun, Wolfram diproyeksikan menjadi salah satu kontributor utama dalam jangka pendek, terutama dengan kondisi harga komoditas yang mendukung,” kata Kenny dalam risetnya, Selasa (5/5/2026).

Sementara itu, Jubilee Metals menawarkan eksposur ke komoditas emas dengan target produksi sekitar 30.000 ounce per tahun. Kualitas sumber daya yang tinggi dan jalur peningkatan produksi yang jelas menjadi faktor pendukung potensi margin yang kuat.

Kenny memperkirakan kontribusi dari kedua aset ini akan mulai tercermin signifikan pada kinerja keuangan BUMI mulai semester kedua 2026. Hal itu menandai pergeseran bauran laba yang lebih terdiversifikasi.

Di sisi lain, BUMI juga masuk ke segmen logam industri melalui kepemilikan 45 persen di Laman Mining. Dengan cadangan bauksit sekitar 30 juta ton, aset ini membuka peluang tambahan dalam rantai nilai industri aluminium.

Dari sisi pipeline, perusahaan tengah menjajaki akuisisi Loyal Metals (LLM) di Australia dengan nilai sekitar Rp977 miliar. Transaksi ini berpotensi memperkaya portofolio tembaga dan emas sekaligus mempertegas arah strategi jangka panjang, jika semua persyaratan terpenuhi.

Rangkaian langkah ini menunjukkan bahwa diversifikasi BUMI tidak bersifat oportunistik, melainkan terencana dan terukur sebagai bagian dari reposisi bisnis. Dalam pandangan analis, transformasi ini menempatkan BUMI pada jalur menuju model bisnis yang lebih resilien, dengan ketergantungan yang semakin berkurang pada siklus batubara.

Dengan fundamental yang semakin solid dan visibilitas pertumbuhan yang meningkat, saham BUMI dinilai memiliki potensi untuk mengalami peningkatan valuasi. Kenny Shan memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp290 per saham.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar