Mengapa UEA Memutuskan Keluar dari OPEC?
OPEC organisasi global negara-negara penghasil minyak punya sistem kuota. Sistem ini membatasi jumlah minyak yang bisa diproduksi tiap anggotanya. Lumayan ketat, sebenarnya.
Nah, selama bertahun-tahun, Uni Emirat Arab (UEA) punya masalah sama Arab Saudi. Saudi ini kan anggota paling berpengaruh di OPEC. Masalahnya? Soal kuota tadi. UEA sudah investasi besar-besaran, lho, buat memperluas industri minyaknya. Mereka pengen naikin pangsa pasar. Tapi aturan OPEC sering jadi penghalang.
Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei, ngomong gini ke The New York Times pada Selasa (28/4):
"Dunia butuh lebih banyak energi. Dunia butuh lebih banyak sumber daya. Dan UEA ingin bebas dari batasan kelompok mana pun."
UEA yakin mereka bisa jual lebih banyak minyak begitu perang AS-Israel melawan Iran dan krisis Selat Hormuz selesai. Entah jangka menengah atau panjang. Sementara itu, para analis bilang langkah ini udah diperhitungkan. Produsen minyak ini siap bertindak sendiri.
"Kehilangan anggota dengan kapasitas 4,8 juta barel per hari dan ambisi produksi yang lebih besar itu benar-benar menghilangkan instrumen penting dari OPEC," kata Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di konsultan Rystad Energy.
Dia lanjutin, "Dengan permintaan yang mendekati puncak, perhitungan buat produsen berbiaya rendah berubah cepat. Nunggu giliran dalam sistem kuota? Itu kayak buang-buang uang."
UEA, yang gabung OPEC tahun 1967, bakal keluar dari OPEC dan aliansi OPEC (yang termasuk Rusia) per 1 Mei mendatang.
Saat ini, UEA produksi sekitar 3,2 sampai 3,6 juta barel per hari (bpd) masih di bawah kuota. Tapi kapasitas cadangannya nyaris 4,8 juta bpd, menurut laporan Reuters. Rencananya, tahun depan produksi bakal dinaikin jadi 5 juta bpd.
Keluarnya UEA: Melemahkan OPEC dan Kepemimpinan Arab Saudi?
Ini yang menarik. Keluarnya UEA bikin OPEC kehilangan salah satu dari sedikit anggota yang punya kapasitas cadangan minyak besar. Akibatnya? Arab Saudi nggak bisa lagi gampang-gampang aja bagi-bagi beban penyesuaian produksi.
Selama ini, Kerajaan Teluk itu berperan jaga harga minyak. Caranya? Mereka pangkas produksi sendiri, dan nerapin disiplin ke seluruh kelompok. Tapi sekarang, dengan UEA pergi, Saudi harus ngandelin pemangkasan produksinya sendiri buat stabilkan harga.
Di sisi lain, ini bikin upaya Riyadh jaga stabilitas harga di kisaran tinggi jadi kurang efektif. Kemampuan mereka ngatur dan mendisiplinkan kelompok OPEC yang lebih luas? Juga ikut melemah.
David Oxley, kepala ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics lembaga riset yang berbasis di London nyebut langkah ini sebagai "awal dari perpecahan."
Dia memperingatkan, "Ikatan yang menyatukan anggota OPEC udah melemah."
Soal harga, Arab Saudi butuh harga minyak tinggi sekitar €77 (Rp1,5 juta) per barel buat biayai pengeluaran pemerintah. Apalagi mereka punya Visi 2030 yang ambisius. Itu proyek infrastruktur besar buat kurangi ketergantungan Kerajaan pada bahan bakar fosil. Termasuk kota futuristik senilai $500 miliar (Rp8.500 triliun) bernama NEOM.
Setiap barel tambahan yang ditahan negara ini? Itu artinya pendapatan hilang. Merugikan pertumbuhan ekonomi mereka sendiri.
Keluarnya UEA juga ngungkap ketegangan yang udah lama ada di dalam OPEC. Terutama soal persepsi bahwa Arab Saudi mendominasi pengambilan keputusan. Nggak heran, sih.
Langkah ini juga terjadi saat pengaruh OPEC secara keseluruhan udah menyusut. Dulu, organisasi ini pernah ngendaliin lebih dari setengah pasokan global. Sekarang? Kurang dari sepertiga.
Apa Dampak Keluarnya UEA terhadap Harga Minyak Global?
Keluarnya UEA kemungkinan nggak bakal bikin perubahan besar secara langsung di harga minyak global. Apalagi gangguan di Selat Hormuz lagi dominasi pasar.
Mayoritas ekspor minyak di kawasan itu masih terhambat. UEA sendiri saat ini ngaliin sekitar 1,8 juta barel per hari (bpd) ke pelabuhan Fujairah di pesisir Teluk Oman lewat pipa yang udah beroperasi di kapasitas maksimum. Produksi tambahan yang pengen mereka naikin? Juga belum bisa langsung masuk pasar.
Akibatnya, pengumuman itu hampir nggak berdampak ke harga jangka pendek. Harga minyak mentah Brent? Relatif nggak berubah pada Selasa kemarin.
"Dalam jangka pendek, saya kira keluarnya UEA nggak bakal berdampak besar," kata Jeff Colgan, pakar OPEC dari Brown University, ke DW.
"Soalnya apa yang terjadi di Selat Hormuz sekarang lagi mendominasi gambaran minyak global. Berita dari OPEC ini jadi hal yang relatif kecil."
Nah, setelah situasi di Hormuz normal, UEA berpotensi nambah beberapa ratus ribu barel per hari ke pasar. Tapi dalam jangka panjang? Keluarnya UEA malah bisa bikin harga minyak sedikit lebih rendah dan lebih fluktuatif.
Bisakah UEA Bikin Negara Produsen Lain Mempertimbangkan Kembali Keanggotaan di OPEC?
Beberapa analis industri minyak bilang, keluarnya UEA nambah keraguan yang udah lama ada soal kekompakan OPEC.
"Mungkin kita bisa lihat seluruh organisasi ini runtuh," kata Colgan ke DW. Tapi dia juga percaya Arab Saudi kemungkinan besar bakal berusaha jaga kelompok ini tetap bersatu. "Saudi kan penopang utama organisasi."
Namun begitu, keluarnya UEA nyorotin ketidakpuasan terhadap sistem kuota OPEC. Ini nunjukin perpecahan, terutama dengan Arab Saudi.
OPEC sendiri udah dalam tekanan. Pelanggaran kuota berulang sama anggota kayak Irak dan Nigeria. Belum lagi Rusia yang nggak konsisten patuh sama OPEC . Keputusan UEA buat keluar? Itu nambah fragmentasi.
Dalam analisisnya buat Capital Economics, Oxley ngasih peringatan. Dalam jangka menengah, kalau produsen lain dengan kapasitas minyak cadangan "melihat UEA berhasil dapetin fleksibilitas dan pangsa pasar" di luar OPEC, "yang lain mungkin bakal ngikut."
Tapi untuk sekarang, mayoritas anggota nggak punya kapasitas produksi atau diversifikasi ekonomi kayak UEA. Jadi eksodus massal dari OPEC? Kemungkinan kecil.
UEA bukan negara pertama yang keluar dari OPEC, kok. Qatar keluar tahun 2019. Angola, Ekuador, Gabon, dan Indonesia juga pernah nangguhin keanggotaan dalam beberapa tahun terakhir. Soalnya susah ngikutin kebijakan kuota OPEC apalagi produksi minyak dalam negeri dan posisi mereka sebagai net importir.
Artikel Terkait
Menko PMK: Negara Harus Hadir Cepat Tangani Kekerasan di Daycare, Little Arissa Ditutup
KJRI Kuching Pulangkan Dua PMI dengan Hak Gaji Total Rp170 Juta Usai Mediasi
Menteri PPPA: 33 Daycare di Yogyakarta Tak Berizin, Pemerintah Dorong Pengawasan Terpadu
Kebakaran Besar Landa Pasar Kanjengan Johar Semarang, 468 Lapak dan Ruko Ludes