Kementerian Luar Negeri Indonesia akhirnya buka suara soal keputusan Uni Emirat Arab yang memilih hengkang dari OPEC. Kabar ini memang cukup mengejutkan banyak pihak. Tapi, menurut Kemlu, langkah itu sama sekali tidak akan mengganggu hubungan bilateral yang sudah terjalin selama ini.
Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, bilang bahwa pemerintah melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang wajar. Bagian dari dinamika tata kelola energi dunia yang terus berubah. Indonesia, katanya, cuma berharap stabilitas pasar minyak global tetap terjaga.
"Pemerintah Indonesia memandang perkembangan ini sebagai bagian dari dinamika tata kelola energi global yang terus berkembang," ujar Yvonne dalam jumpa pers di Kantor Kemlu, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2026).
Ia lalu menjelaskan lebih lanjut. Indonesia punya harapan besar agar perubahan komposisi keanggotaan di OPEC ini tidak bikin pasokan energi internasional jadi goyah.
"Dan kita berharap perkembangan ini tetap mendukung stabilitas pasar dan keamanan pasokan energi global," lanjutnya.
Di sisi lain, pemerintah juga disebut akan terus memantau situasi. Yvonne memastikan bahwa segala dampak terhadap ekonomi dalam negeri bakal dicermati dengan saksama.
"Pemerintah Indonesia tentunya akan terus mencermati perkembangan situasi ini secara menyeluruh serta implikasinya terhadap perekonomian dan ketahanan energi nasional," ungkapnya.
Nah, soal kerja sama dengan UEA sendiri, Yvonne menjamin semuanya baik-baik saja. Hubungan diplomatik dan kemitraan strategis disebut tetap solid. Keputusan UEA di OPEC itu, menurut dia, adalah urusan internal mereka. Bukan sesuatu yang bisa mengganggu komitmen kerja sama dengan Indonesia.
"Dapat kami sampaikan, kebijakan tersebut tidak mempengaruhi hubungan bilateral yang selama ini terjalin maupun kerja sama strategis yang telah terbina antara Indonesia dan UEA," pungkas Yvonne.
Seperti yang sudah ramai diberitakan, UEA memang mengumumkan keluar dari OPEC dan OPEC . Dalam pernyataan resmi, Kementerian Energi dan Infrastruktur UEA bilang ini semua bagian dari strategi prioritas dan ekonomi jangka panjang mereka.
"Keputusan ini diambil setelah peninjauan komprehensif terhadap kebijakan produksi UEA serta kapasitas saat ini dan ke depan. Juga didasarkan pada kepentingan nasional dan komitmen kami untuk berkontribusi secara efektif dalam memenuhi kebutuhan pasar yang mendesak," demikian pernyataan tersebut, Rabu (29/4).
Menariknya, UEA juga mengeklaim akan tetap bersikap "bertanggung jawab". Mereka bilang akan menambah produksi minyak secara bertahap dan terukur, sesuai permintaan dan kondisi pasar.
"Selama berada dalam organisasi ini, kami telah memberikan kontribusi besar. Adapun pengorbanan yang lebih besar demi kepentingan bersama. Namun, kini saatnya kami fokus pada kepentingan nasional kami," lanjut pernyataan itu.
Artikel Terkait
Pemerintah Bentuk Gugus Tugas Perbaikan Tata Kelola Daycare Usai Kasus Kekerasan di Little Aresh
Kebakaran Apartemen Mediterania Jakarta Barat, 89 Penghuni Dievakuasi, 20 Orang Alami Sesak Napas
Progres Pembangunan Lima Sekolah Rakyat di Jatim Capai 45,5 Persen, Ditargetkan Rampung Juli 2026
Kepala Dinas di Pandeglang Tabrak Siswa SD hingga Tewas, Polisi Periksa Pengemudi yang Pakai Selang Oksigen