Kapal induk andalan Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford, bakal angkat sauh dari Timur Tengah. Bukan dalam hitungan minggu, melainkan "beberapa hari ke depan." Kabar ini mencuat di tengah mandeknya perundingan damai antara Washington dan Teheran.
Kapal raksasa ini merupakan satu dari tiga kapal induk AS yang dikerahkan ke kawasan tersebut. Rencananya, ia akan pulang ke pangkalan asalnya di Amerika. Menurut laporan The Washington Post yang mengutip sejumlah pejabat AS seperti dikutip Anadolu Agency pada Kamis (30/4/2026) USS Gerald R. Ford diperkirakan akan merapat di Virginia sekitar pertengahan Mei mendatang.
Yang menarik, pengerahan kali ini memecahkan rekor. Totalnya mencapai 309 hari. Itu adalah durasi terlama untuk sebuah kapal induk modern milik AS. Bayangkan, hampir setahun penuh berlayar dan siaga di perairan asing.
Nah, setelah Ford pergi, masih akan ada dua kapal induk lain yang tersisa di Laut Arab: USS Abraham Lincoln dan USS George H.W. Bush. Keduanya masih disiagakan. Angkatan Laut AS, di sisi lain, masih memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang nekat mengangkut minyak atau barang dari pelabuhan Iran. Situasi di sana memang masih panas.
Soal kepulangan Ford ini, Komando Pusat AS (CENTCOM) belum memberikan tanggapan langsung. Namun begitu, sehari sebelumnya, pada Rabu (29/4), mereka sempat buka suara lewat akun media sosial X. CENTCOM menyebut bahwa USS Gerald R. Ford masih beroperasi di Laut Merah.
"USS Gerald R. Ford terus melakukan operasi penerbangan rutin saat berlayar di Laut Merah," tulis CENTCOM dalam pernyataannya. Jadi, meski kabar kepulangan sudah santer terdengar, kapal ini sepertinya masih sibuk dengan aktivitasnya di atas gelombang.
Artikel Terkait
Kakek 70 Tahun Tertimpa Reruntuhan Plafon saat Rumahnya Terbakar di Polman
Swedia dan Tunisia Berebut Tiket ke Babak 32 Besar di Laga Perdana Grup F Piala Dunia 2026
BPBD Lumajang Imbau Warga Waspada Luncuran Awan Panas Gunung Semeru yang Masih Berstatus Siaga
Trump Minta Israel Hentikan Serangan ke Beirut, Peringatkan Kesepakatan Damai dengan Iran di Ambang Gagal