KRL dari Stasiun Bekasi Timur ke Cikarang menjadi perjalanan pulang kerja terakhir bagi Nurlaela. Kereta yang biasa ia tumpangi setiap hari pergi dan pulang mengajar kini menjadi kendaraan yang mengantarnya menghadap Sang Pencipta. Tragis, memang. Tapi beginilah kenyataan yang harus diterima keluarga.
Nurlaela, 37 tahun, adalah satu dari sekian korban dalam kecelakaan antara KA Argo Bromo dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam, 27 April 2026. Banyak yang merasa kehilangan. Ia dikenal sebagai pribadi pekerja keras, sosok yang tak kenal lelah.
Sehari-hari, ia mengajar sebagai guru SD di Pejagan, Pulogebang. Baru-baru ini, ia menyelesaikan pendidikan S2-nya di Universitas Negeri Jakarta. Bayangkan, di tengah kesibukan mengajar, ia masih sempat mengejar gelar master. Itu menunjukkan betapa gigihnya dia.
Setiap pagi, Nurlaela naik KRL ke sekolah. Ia mengajar dari pagi hingga sore. Rutinitas itu ia jalani bertahun-tahun tanpa keluhan. Tapi hari Senin itu, segalanya berbeda.
Nurlaela tak kunjung pulang. Keluarganya mulai cemas. Ponselnya tidak diangkat. Paman Nurlaela, Mulyadi, menceritakan kekhawatiran itu dengan nada getir.
“Kami sudah khawatir karena belum pulang, ditelepon tidak angkat. Pas diangkat, orang lain. Dari pihak berwenang bilang handphone ditemukan, tapi korban belum diketahui ada di mana,” ucapnya.
Suaranya terdengar bergetar, seperti menahan sesuatu. Keluarga hanya bisa pasrah, menunggu kabar yang tak kunjung pasti. Dan akhirnya, kabar itu datang tapi bukan seperti yang mereka harapkan.
Artikel Terkait
PLN Pastikan Listrik di Depok Kembali Normal Usai Pemadaman Akibat Pemeliharaan Jaringan
13 Federasi Sepak Bola Protes Keras Komentar Ceferin yang Anggap Laga Kualifikasi Piala Dunia Tidak Menarik
Pemkab Bekasi Petakan Lima Kecamatan Rawan Kekeringan, Antisipasi Gagal Panen di Musim Kemarau
Mendagri Tito Tinjau Langsung Bantuan Perbaikan Rumah Warga di Tambora Jakarta Barat