Kabupaten Bogor punya sembilan perlintasan kereta api yang nggak dilengkapi palang pintu. Angka ini tercatat di Dinas Perhubungan setempat. Dan ternyata, daerah Parung Panjang sama Cigombong jadi yang paling banyak menyumbang.
"Perlintasan tanpa palang pintu, kalau di kita itu perlintasan yang masuk kategori jalan di kabupaten," kata Herdi Sukriadi, Kasi Jaringan Transportasi Dishub Kabupaten Bogor, kepada wartawan pada Selasa (28/4/2026). "Karena kan ada jalan nasional, (jalan) kabupaten, (jalan) lingkungan, (jalan) provinsi. Kalau untuk yang di jalan kabupaten itu total ada 13, nah yang tidak berpalang itu ada sembilan."
Nah, soal sebarannya, perlintasan kereta di Kabupaten Bogor ini ternyata terhampar di empat trase. Ada trase Bogor-Jakarta, Bogor-Sukabumi, Parung Panjang-Rangkas Bitung, dan trase Citayem-Nambo. Dari semua itu, yang nggak punya palang pintu atau istilah kerennya perlintasan sebidang tanpa palang paling banyak justru di Parung Panjang dan Cigombong.
"Kita itu ada empat trase, (yakni) Parung Panjang-Rangkas Bitung, terus trase Bogor-Jakarta, Trase Bogor-Sukabumi sama Trase Nambo-Citayem. Ya, untuk yang tidak berpintu kebanyakan adanya di Parung Panjang. Ada sih nanti rinciannya ya, terus itu juga ada di Cigombong," ujar Herdi.
Dia menambahkan, "Rata-rata itu mayoritas akses umum, jalan kabupaten. Kalau (jalan) nasional itu (datanya) ke BTP paling, kalau (jalan) provinsi ke sana Provinsi Ke Dishub Bandung."
Menurut Herdi, perlintasan tanpa palang pintu ini kebanyakan berada di jalur yang lumayan padat. Apalagi pas jam sibuk pagi sama sore hari. Tapi, dia juga bilang nggak semuanya gila-gilaan ramai.
"Kalau di kita sih, sebagian besar sih normal ya dibilang padat juga enggak. Hanya ada beberapa titik yang paling padat itu di (Desa) Kabasiran, terus di Parung Panjang itu kalau pagi ya. Kebanyakan Parung Panjang kalau yang agak padat, sama di sini di Bojonggede kalau pagi ya, karena ada akses ke stasiun juga," jelasnya.
Di sisi lain, Dishub ternyata nggak tinggal diam. Mereka sudah mengusulkan tiga titik perlintasan sebidang untuk dipindahkan atau direlokasi. Titik-titik itu ada di Tenjo, Cigombong, dan Batutulis. Selain itu, sebagai langkah antisipasi kecelakaan, mereka juga sudah memasang palang pintu dan alat keselamatan lainnya di sejumlah lokasi.
"Kita sedang mengajukan relokasi palang pintu yang sudah ditingkatkan. Contoh di Tenjo, Flyover Tenjo kan sudah terbangun, nah itu akan kita sedang proses permohonan relokasi ke kementerian. Sama yang di Maseng juga akan kita geser ke Cigombong, sama di Batutulis. Jadi ada tiga relokasi, tapi ini menunggu keputusan dari pusat," pungkasnya.
Artikel Terkait
Tri Tito Karnavian Dorong PKK Papua Selatan Gali Potensi Lokal dan Tak Bisa Disamaratakan
Kapolri Gelar Rakor Lintas Sektoral Antisipasi Dampak Eskalasi Global
Ketidakselarasan Kebijakan Antar Kementerian Dinilai Jadi Sumber Utama Masalah Tata Kelola Sawit Nasional
Presiden Lebanon Sebut Negosiasi Langsung dengan Israel untuk Akhiri Perang, Sindir Hizbullah Lakukan Pengkhianatan