Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bilang Iran bisa langsung telepon ke Washington kalau memang serius mau negosiasi. Gini, katanya, mereka punya saluran yang aman dan bagus. "Mereka tahu apa yang seharusnya ada dalam perjanjian. Sangat sederhana: mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, jika tidak demikian, tidak ada alasan untuk bertemu," tegas Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Pernyataan ini keluar setelah rencana perundingan damai di Pakistan mentok. Akhir pekan lalu, tepatnya Sabtu (25/4), Trump tiba-tiba membatalkan kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff, dan menantunya sekaligus penasihat, Jared Kushner, ke Islamabad. Alasannya? Teheran menolak duduk satu meja langsung dengan Washington. Mereka lebih milih nyampein unek-unek lewat Islamabad sebagai perantara.
Nah, di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memang sempat mampir ke Islamabad pada hari yang sama. Tapi dia cuma ketemu pejabat tinggi Pakistan termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif. Bukan untuk berunding dengan pihak AS. Jadilah, harapan buat menghidupkan lagi perundingan damai itu pupus. Apalagi pertemuan awal di Islamabad pertengahan April lalu juga sudah berakhir tanpa hasil.
Menurut sejumlah saksi, suasana jadi makin keruh. Tapi ketika ditanya apakah pembatalan kunjungan ini berarti pertempuran bakal pecah lagi, Trump menjawab dengan santai: "Tidak, itu tidak berarti demikian."
Gaya bicaranya di depan kamera Fox News itu khas percaya diri, sedikit menggoda, tapi tetap tegas. "Jika mereka ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka dapat menghubungi kami. Anda tahu, ada telepon. Kami memiliki saluran yang bagus dan aman," ujarnya.
Jadi, intinya pintu masih terbuka. Tapi syaratnya jelas: Iran harus siap meninggalkan ambisi nuklirnya. Kalau tidak, ya, ngapain repot-repot ketemu?
Artikel Terkait
AS Genjot Produksi Fosil, Cina Kuasai Teknologi Hijau: Dua Jalur Perebutan Kepemimpinan Energi Global
Sidang Korupsi Laptop Chromebook Kembali Digelar, Nadiem Makarim Tak Hadir karena Dirawat di RS
Daycare Little Aresha di Yogyakarta Diduga Aniaya 53 Anak, Tak Berizin dan Jadi Sorotan Menteri
Enam Tokoh Berdatangan ke Istana, Isu Reshuffle Terbatas Makin Menguat