Poros Maritim Dunia Mulai Rasakan Dampaknya di Sulawesi Tenggara, dari Tol Laut hingga Hilirisasi Perikanan

- Senin, 27 April 2026 | 13:15 WIB
Poros Maritim Dunia Mulai Rasakan Dampaknya di Sulawesi Tenggara, dari Tol Laut hingga Hilirisasi Perikanan

Penulis: Laode Liku


TVRINews, Sulawesi Tenggara

Dulu, bayangan tentang Sulawesi Tenggara mungkin cuma soal pulau-pulau terpencil yang susah dijangkau. Tapi sekarang? Ceritanya mulai berubah. Kebijakan Poros Maritim Dunia yang digagas di era Presiden Joko Widodo ternyata membawa angin segar. Khususnya buat wilayah kepulauan seperti provinsi ini.

Infrastruktur maritim dan konektivitas antarpulau mulai diperkuat. Dan menurut sejumlah pengamat, ini bukan sekadar proyek fisik. Lebih dari itu, kebijakan ini dinilai bisa mendorong pemerataan ekonomi hingga ke pesisir dan daerah yang sebelumnya nyaris terlupakan.

Di Sulawesi Tenggara sendiri, manfaatnya udah mulai kerasa. Ambil contoh program tol laut dan pembangunan pelabuhan di beberapa titik baik di daratan maupun di kepulauan. Barang-barang yang dulu sampai berminggu-minggu, sekarang lebih cepat. Biaya logistik pun turun. Alhasil, kesenjangan harga antara daerah terpencil dan pusat ekonomi sedikit demi sedikit mulai menyempit.

Tapi bukan cuma soal distribusi barang saja.

La Ode Muh. Aslan, peneliti bidang perikanan dan kelautan dari Universitas Halu Oleo, punya pandangan menarik. Menurut dia, sektor perikanan yang memang jadi andalan daerah juga kena dampak positif.

“Selain sektor transportasi, kebijakan Poros Maritim Dunia juga memberikan dampak besar pada sektor perikanan yang menjadi potensi unggulan Sulawesi Tenggara,” ujarnya, Senin, 27 April 2026.

Ia bilang, sekarang pengembangan sektor ini nggak cuma berhenti di jual ikan mentah. Ada dorongan ke arah hilirisasi. Ikan diolah, diberi nilai tambah, jadi produk yang lebih bernilai ekonomi tinggi. Lumayan kan?

Di sisi lain, soal keamanan laut juga dapat perhatian serius. Di beberapa wilayah pesisir seperti Konawe dan kawasan wisata Pulau Labengki, nelayan lokal dilibatkan langsung dalam pengawasan perairan. Tujuannya? Menekan praktik penangkapan ikan ilegal yang selama ini merugikan.

Langkah ini dinilai cukup efektif. Selain mengurangi aktivitas illegal fishing, nelayan lokal juga merasa lebih dilindungi. Sumber daya laut pun bisa lebih terjaga. Jadi semacam untung-untungan yang baik, kalau kata orang.

Ngomong-ngomong soal pariwisata, penguatan keamanan laut ini ternyata juga mendorong ekowisata berbasis konservasi. Contohnya di kawasan konservasi kima di Pulau Labengki. Di sana, pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat berjalan bareng. Sinergi yang jarang terjadi, tapi nyata.

Ke depan, harapannya Sulawesi Tenggara bisa makin mengukuhkan diri sebagai poros maritim di kawasan timur Indonesia. Potensi sumber daya lautnya besar. Peluang strategisnya jelas ada. Tinggal bagaimana daerah ini bisa berkontribusi lebih luas dalam pembangunan nasional khususnya lewat sektor kelautan dan perikanan.

Ya, setidaknya itulah yang diharapkan banyak orang.


Editor: Redaktur TVRINews

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar