Remaja 16 Tahun di Banyuasin Terlumpuh Akibat Kerusakan Otak, Keluarga Butuh Uluran Tangan

- Senin, 27 April 2026 | 12:55 WIB
Remaja 16 Tahun di Banyuasin Terlumpuh Akibat Kerusakan Otak, Keluarga Butuh Uluran Tangan

Hidup sehat itu impian semua orang. Termasuk Muhammad Khalif Pratama, anak kedua pasangan Zainuri dan Ita Retno Sari. Di usianya yang baru 16 tahun, Alif, sapaan akrabnya, cuma bisa berbaring. Tubuhnya nggak bisa tegak lurus. Ia juga nggak bisa bicara. Komunikasi? Lewat tatapan mata saja.

"Kata dokter, otak motoriknya hancur," ucap Ita suatu hari, saat ditemui di rumahnya di Banyuasin, Sumatra Selatan. Suaranya pelan, tapi jelas.

Dulu, waktu lahir, Alif normal-normal aja. Sama seperti kakak dan adiknya. Tapi pas usianya 26 hari, tiba-tiba dia batuk. Tubuhnya membiru. Keluarga langsung bawa ke rumah sakit, dirawat empat hari. Waktu itu, mereka belum curiga sama sekali. Setelah selesai rawat inap, ya dibawa pulang lagi.

Kecurigaan mulai muncul pas Alif berusia tiga bulan. Tumbuh kembangnya mandek. Dia nggak bisa tengkurap. Tangannya mulai terbuka, kakinya makin kuat menendang tapi ya itu, nggak ada perkembangan berarti. Akhirnya, bolak-baliklah mereka ke rumah sakit. Cari diagnosa yang tepat. Cari terapi yang pas.

Tapi, menurut Ita, sampai sekarang pun belum ketahuan apa penyebab otak Alif hancur. Nggak pernah jatuh. Nggak pernah sakit parah sampai harus dirawat inap sejak kecil. Kerusakan otak ini ternyata berdampak ke organ lain. Salah satunya, infeksi paru akibat jamur. Kata Ita, itu juga karena konsumsi obat yang nggak tuntas.

Sekarang, Alif pakai alat penghisap lendir. Dipasang tepat di tenggorokannya. Setiap kali batuk, selang dan pompa itu dipakai buat nyedot lendir yang keluar. Alatnya sederhana, tapi perawatannya nggak gampang.

"Sejak dipasang, Alif nggak pernah senyum atau ketawa lagi. Padahal dulu sering banget. Apalagi kalau kakaknya datang dari Kalimantan, atau ada orang baru, atau pas kumpul keluarga," kata Ita. Ia hampir nggak pernah jauh dari Alif sejak anaknya mulai sakit.

Alat itu mulai dipasang pas Alif dirawat inap, Senin, 10 November 2025. Waktu itu, hasil diagnosa bilang ada flek dan jejak infeksi. Paru-parunya jadi nggak maksimal kerjanya. Alif nggak bisa ngeluarin dahak sendiri. Makanya harus pakai suction pump.

Meski kondisinya begini, orang tua Alif tetap merawatnya dengan penuh cinta. Ita masih menyimpan harapan. Ia percaya Alif bisa sehat, tumbuh seperti anak-anak lain. Apalagi Alif sekarang mulai beranjak dewasa. Usia yang seharusnya diisi sekolah dan aktivitas lain.

"Harapannya biar sembuh. Nggak apa-apa masih terus dirawat, yang penting dia sehat. Kami mau ikuti aja jalannya. Soalnya dari dokter udah nggak ada tindakan lagi. Cuma perawatan dan kontrol tiap bulan," ujar Ita.

Tapi, jangan bayangkan ini mudah. Kebutuhan Alif banyak. Popok sekali pakai isi 26, kadang habis cuma tiga hari. Air infus steril dua botol sehari buat bersihin selang suction pump dan perlengkapan lain. Belum lagi susu dan vitamin. Semua itu jelas nggak murah, apalagi buat keluarga pra sejahtera dengan penghasilan seadanya.

Karena itu, buat Sahabat Baik yang baca ini mari kita bantu Alif. Biar perawatannya bisa berjalan sebaik mungkin. Kepedulian kita, sekecil apa pun, berarti banget buat kelangsungan hidup Alif dan keluarganya. Yuk, salurkan donasi untuk Alif lewat berbuatbaik.id. 100 persen tersalurkan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar