Perundingan Iran-AS Buntu, Harga Minyak Melonjak dan Ketegangan Global Kembali Meningkat

- Minggu, 26 April 2026 | 10:15 WIB
Perundingan Iran-AS Buntu, Harga Minyak Melonjak dan Ketegangan Global Kembali Meningkat

Washington Harapan untuk damai? Kayaknya masih jauh panggang dari api. Terobosan diplomatik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel lagi-lagi mentok. Perundingan di Pakistan buntu. Kedua pihak tetap ngotot pada posisi masing-masing.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pulang dari Pakistan tanpa hasil apa pun akhir pekan lalu. Di saat yang hampir bersamaan, Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad. Semakin besar deh keraguan soal peluang perdamaian.

Kebuntuan ini bikin ketegangan antara dua kekuatan besar itu tetap panas. Dampaknya? Pasar energi global goyang. Harga minyak melesat ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Inflasi ikut naik. Prospek pertumbuhan ekonomi dunia juga makin terbebani. Pokoknya ruwet.

Nah, dari pihak Iran, Presiden Masoud Pezeshkian bicara tegas ke Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Katanya, Teheran nggak bakal nerima “negosiasi yang dipaksakan” di bawah ancaman atau blokade. Gitu.

Menurut pemerintah Iran, Pezeshkian minta Amerika Serikat dulu menghapus hambatan operasional. Misalnya, blokade di pelabuhan Iran. Baru setelah itu pembicaraan substantif bisa dimulai. Logis sih, tapi ya gitu deh.

Araghchi sendiri menyebut kunjungannya ke Pakistan “sangat produktif.” Tapi sumber diplomatik Iran bilang lain. Mereka menegaskan Teheran nggak akan terima tuntutan maksimal dari Washington. Jadi, ada jarak antara pernyataan publik dan kenyataan di lapangan.

Ada Apa di Dalam?

Di sisi lain, Trump punya cerita sendiri. Dia bilang pembatalan perjalanan delegasi AS karena tawaran Iran dianggap kurang. “Mereka menawarkan banyak, tetapi tidak cukup,” kata Trump. Dia juga nambahin bahwa kepemimpinan Iran lagi kena konflik internal dan bingung.

“Tidak ada yang tahu siapa yang memimpin, termasuk mereka sendiri,” tulis Trump di Truth Social. Kasar sih, tapi ya itu gaya dia.

Namun begitu, Pezeshkian membantah. Dia menegaskan Iran bersatu di bawah pemimpin tertinggi. Nggak ada perpecahan internal antara kubu moderat dan garis keras. Klaim versus klaim, gitu deh.

Situasi makin panas karena Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru aja perintahkan serangan baru ke target-target Hezbollah di Lebanon. Padahal, gencatan senjata tiga pekan masih berlaku. Ujian berat buat kesepakatan yang rapuh itu.

Iran juga masih main-main di Selat Hormuz. Jalur strategis yang ngangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia itu mereka batasi aksesnya. Sementara Washington terus blokade ekspor minyak Iran. Saling jegal, pokoknya.

Konflik ini sebenarnya berawal dari serangan udara gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Iran balas dengan menyerang Israel, pangkalan AS, dan beberapa negara Teluk. Dari situ mulainya, dan sekarang makin kusut.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar