Rupiah Melemah ke Rp17.255, BI Tingkatkan Intervensi Hadapi Tekanan Global

- Kamis, 23 April 2026 | 14:15 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.255, BI Tingkatkan Intervensi Hadapi Tekanan Global

Jakarta – Rupiah kembali merosot di awal sesi perdagangan hari ini. Sentimen pasar global yang suram, terutama akibat ketegangan di Timur Tengah, membuat mata uang Garuda itu dibuka di posisi Rp17.255 per dolar AS. Artinya, melemah 74 poin atau 0,43% dari penutupan sebelumnya.

Pelemahan ini bukan cuma masalah rupiah. Sebagian besar mata uang Asia juga ikut terperosok. Ringgit Malaysia, peso Filipina, hingga rupee India tercatat melemah dengan beragam besaran. Hanya sedikit yang bertahan, seperti yen Jepang dan won Korea Selatan, yang masih mampu mencatatkan penguatan tipis.

Di tengah tekanan ini, Bank Indonesia angkat bicara. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengakui tekanan terhadap rupiah memang berat. Penyebabnya jelas: eskalasi ketidakpastian global yang menghantam hampir semua mata uang regional.

“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54%,” ungkap Destry dalam keterangan resminya, Kamis (23/4/2026).

Namun begitu, BI tak tinggal diam. Destry menegaskan intensitas intervensi di pasar ditingkatkan. Mereka juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset dalam negeri. Langkah-langkah stabilisasi ini dijalankan melalui berbagai kanal, mulai dari pasar offshore hingga pembelian SBN di pasar sekunder. Kabar baiknya, amunisi BI dinilai masih kuat, didukung cadangan devisa yang mencapai US$148,2 miliar per akhir Maret lalu.

“Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur,” tegas Destry.

Bagaimana respons pemerintah? Tampaknya lebih tenang. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah terus memantau situasi. Menurutnya, gejolak yang terjadi saat ini adalah imbas dari sentimen global yang melanda kawasan.

“Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak. Kan itu lihat gejolak global juga, jadi ya kita monitor saja,” ujar Airlangga di Kantor BKPM, Jakarta.

Soal langkah antisipasi, Airlangga terlihat tak ingin pemerintah bersikap reaktif terhadap fluktuasi harian. Mandat untuk menjaga stabilitas nilai tukar, kata dia, sepenuhnya diserahkan kepada otoritas moneter.

“Kita monitor saja, dan itu BI tugasnya menjaga [stabilitas],” tutupnya.

Jadi, meski dibuka lesu, pergerakan rupiah hari ini masih dalam koridor tekanan regional. Sorotan kini tertuju pada sejauh mana intervensi BI mampu menahan laju pelemahan, sambil menunggu sentimen global mereda.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar