Semangat Kartini Terus Hidup: 7 Perempuan Penggerak Perubahan di Berbagai Bidang

- Kamis, 23 April 2026 | 11:45 WIB
Semangat Kartini Terus Hidup: 7 Perempuan Penggerak Perubahan di Berbagai Bidang

Setiap 21 April, kita memperingati Hari Kartini. Bukan sekadar tanggal di kalender, tapi momen untuk mengingat kembali perjuangan Raden Ajeng Kartini. Perjuangannya untuk kesetaraan dan pendidikan perempuan itu, ya, masih terasa relevan sampai sekarang.

Semangatnya tak pernah benar-benar padam. Kalau kita lihat sekeliling, nilai-nilai yang diperjuangkannya itu hidup dalam kiprah banyak perempuan Indonesia masa kini. Mereka bergerak di berbagai lini dari ruang rapat diplomatik, kelas sekolah, hingga pelosok desa membawa perubahan yang nyata.

Nah, siapa saja sih Kartini-Kartini masa kini yang patut kita perhatikan? Berikut beberapa nama yang karyanya berbicara.

Retno Marsudi

Ia menorehkan sejarah. Retno adalah Menteri Luar Negeri perempuan pertama yang dimiliki Indonesia. Lulusan HI UGM yang juga menimba ilmu di Belanda ini punya karier diplomatik yang panjang. Dari berbagai penugasan di luar negeri, akhirnya dipercaya memimpin Kemlu. Di forum global, ia tak cuma urusan diplomasi perdamaian dan perlindungan WNI. Retno juga konsisten menyuarakan isu kesetaraan gender.

Najelaa Shihab

Bicara pendidikan, nama Najelaa Shihab pasti tak asing. Dialah sosok di balik Sekolah Cikal, yang dikenal dengan pendekatan belajarnya yang berbeda. Sebagai praktisi, Elaa sapaan akrabnya aktif mendorong transformasi sistem pendidikan kita. Fokusnya jelas: bagaimana agar belajar itu relevan dengan zaman, dan memastikan guru punya kualitas serta metode yang tepat untuk siswanya.

Ni Luh Djelantik

Dari dunia kreatif, ada Ni Luh Djelantik. Desainer sepatu ini sukses mengangkat brand-nya ke kancah internasional. Yang menarik, produknya tak cuma berkualitas, tapi juga punya jiwa. Ia menjunjung nilai lokal dan memberdayakan pengrajin. Di sisi lain, Ni Luh juga vokal di ruang publik. Lewat platformnya, ia sering menyampaikan kritik sosial, membuktikan perempuan punya peran penting dalam diskursus publik.

Butet Manurung

Kisah Butet Manurung lain lagi. Ia memilih jalan menjadi pelopor pendidikan alternatif untuk masyarakat adat. Dengan pendekatan kontekstual, ia membawa akses belajar ke komunitas yang terpencil. Dedikasinya diakui dunia, bahkan ia terpilih sebagai Barbie Role Model 2022 mewakili Indonesia. Butet membuktikan, pendidikan bisa hadir dalam bentuk apa saja, asal sesuai kebutuhan.

Yasmin Mulyana

Inspirasi tak selalu datang dari panggung besar. Terkadang, ia tumbuh dari langkah-langkah kecil yang tekun. Seperti Yasmin Mulyana dari Surabaya. Sebagai Ketua Yayasan Lohjinawi, ia mengembangkan gerakan bank sampah yang kini menjalar ke berbagai daerah. Ribuan bank sampah terbentuk. Setiap bulan, upayanya berhasil mereduksi sampah hingga 20 ton lewat kolaborasi, salah satunya dengan Unilever Indonesia. Ini bukan cuma soal lingkungan, tapi juga pemberdayaan masyarakat akar rumput.

Fransiska Gabriella

Anak muda juga punya cara sendiri. Fransiska Gabriella, misalnya. Ia memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk fokus membangun komunitas edukasi HAM sejak 2025. Sasaran utamanya adalah kelompok rentan: perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas yang akses pendidikannya terbatas. Langkahnya menunjukkan, anak muda bisa ambil peran konkret dalam isu sosial yang kompleks.

Zentri Hartanti

Terakhir, ada Zentri Hartanti. Seorang guru yang mengabdi di pedalaman. Dedikasinya di dunia pendidikan membawanya meraih penghargaan di Kartini Awards 2025. Lewat mengajar, ia berusaha mengubah pola pikir anak-anak muda agar berani bermimpi dan mandiri. Kisahnya sederhana, tapi powerful. Ia adalah penggerak perubahan dari garis depan yang paling dasar: sekolah.

Jadi, semangat Kartini itu memang masih hidup. Berkobar dalam cara dan bidang yang berbeda-beda. Para perempuan ini, dengan caranya masing-masing, menunjukkan bahwa mereka mampu mengambil peran strategis dan menciptakan dampak yang riil bagi sekitarnya. Mereka adalah buktinya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar