Suasana tegang menyelimuti ruang sidang Senat AS, Selasa lalu. Di sana, Kevin Warsh calon kuat pimpinan Federal Reserve harus berhadapan dengan gelombang pertanyaan keras dari para senator Demokrat. Sidang konfirmasinya berjalan alot, penuh dengan kritik yang menusuk.
Elizabeth Warren, senator senior dari Partai Demokrat, langsung menyerang. Dia tak ragu menyebut bahwa Warsh berpotensi cuma jadi "boneka" Presiden Donald Trump jika nanti benar-benar memimpin The Fed. Tudingan ini bukan tanpa alasan. Trump sendiri sebelumnya memberi sinyal bahwa Warsh akan sejalan dengan agenda Gedung Putih, terutama soal penurunan suku bunga untuk memacu ekonomi.
"Memiliki 'boneka' di pucuk pimpinan The Fed akan memberi presiden akses terhadap kewenangan besar bank sentral untuk memperkaya dirinya, keluarganya, dan rekan-rekannya di Wall Street," ujar Warren, seperti dilaporkan BBC.
Warsh tentu saja membantah. Dengan tegas, mantan gubernur The Fed itu menolak anggapan dirinya bakal jadi perpanjangan tangan presiden. "Independensi bank sentral adalah hal mutlak," tekannya, berjanji akan menjaga otonomi lembaga itu.
Namun begitu, tekanan tak berhenti di situ. Warren juga menyorot keterkaitan Warsh dengan Jeffrey Epstein, terpidana kasus kejahatan seksual yang sudah meninggal. Sorotan ini muncul menyusul pengungkapan aset finansial Warsh yang nilainya mencapai ratusan juta dolar AS. Ada satu dana investasi senilai minimal US$100 juta yang rincian asetnya gelap.
"Apakah dana tersebut berinvestasi pada perusahaan yang berafiliasi dengan Presiden Trump atau keluarganya, perusahaan yang memfasilitasi pencucian uang, perusahaan yang dikendalikan China, atau kendaraan pembiayaan yang didirikan oleh Jeffrey Epstein?" tanya Warren lagi.
Warsh tak menjawab langsung. Dia hanya berjanji akan melepas semua kepemilikannya jika nanti dikonfirmasi. Memang, namanya sempat muncul dalam beberapa dokumen Kehakiman terkait Epstein, meski kehadiran nama di sana belum tentu membuktikan pelanggaran hukum.
Di sisi lain, isu suku bunga juga jadi bahan perdebatan sengit. Warsh membantah keras ada kesepakatan rahasia dengan Trump untuk memangkas suku bunga sebagai imbalan pencalonannya. "Presiden tidak pernah sekalipun meminta komitmen seperti itu. Titik. Dan saya juga tidak akan pernah setuju," katanya tegas.
Tapi senator Demokrat Ruben Gallego menyodorkan laporan Wall Street Journal yang berkata lain. Menurut laporan itu, Trump pernah menekan Warsh dalam sebuah pertemuan agar menurunkan biaya pinjaman. Belum lama sidang dimulai, Trump sendiri dalam wawancara dengan CNBC mengaku akan "kecewa" jika Warsh nanti tak segera memangkas suku bunga. Padahal, suku bunga The Fed ini pengaruhnya luas sekali, dari KPR sampai pinjaman perusahaan.
Peta dukungan di Senat pun terbelah. Umumnya, partisan lines menentukan. Tapi ada satu suara dari kubu Republik yang menahan diri: Thom Tillis. Senator dari North Carolina ini bilang dia sebenarnya mendukung Warsh dan mengagumi kredensialnya. Hanya saja, dia mensyaratkan agar penyelidikan terhadap Jerome Powell ketua The Fed saat ini dihentikan dulu sebelum dia memberi suara setuju. Powell sendiri sedang diselidiki terkait pembengkakan biaya renovasi gedung Federal Reserve, yang oleh Tillis disebut "disayangkan" tapi "sah".
Kalau Tillis bersikeras, ini bisa berakibat panjang. Powell rencananya akan tetap menjabat setelah masa tugasnya berakhir pertengahan Mei jika Warsh belum dikonfirmasi. Sikap Tillis berpotensi memicu skenario itu.
Lalu, apa yang dijanjikan Warsh jika lolos? Dia berencana melakukan "perubahan rezim" di tubuh The Fed. Dalam pernyataan pembukaannya, dia mengkritik habis kebijakan "forward guidance" yang selama ini dipakai untuk memberi sinyal arah suku bunga. Menurutnya, cara itu "tidak membantu". Dia menginginkan rapat yang lebih dinamis, tanpa naskah yang disiapkan dari jauh-jauh hari.
Tak cuma itu, Warsh juga menjanjikan "kerangka inflasi baru". Ini mengindikasikan kemungkinan The Fed akan meninggalkan indeks PCE yang selama ini jadi acuan. Tapi detailnya masih belum jelas. Bagaimana tepatnya cara dia mengukur inflasi? Itu masih jadi tanda tanya besar.
Sidang telah usai, tapi ketegangan belum reda. Nasib kursi pimpinan bank sentral paling berpengaruh di dunia itu masih menggantung.
Artikel Terkait
Massa Ojol Ricuh di Makassar, Patroli Polisi Rusak Usai Penganiayaan Driver
Bareskrim dan FBI Petakan Ekosistem Kejahatan Siber dari Penjualan Skrip Phishing
Kemenpar Soroti Kompetensi Penjamah Makanan untuk Keamanan dan Daya Saing Wisata Kuliner
BTN dan KAI Komitmen Bangun Hunian Vertikal di Atas Lahan Manggarai