Dari ladang-ladang hijau Boyolali, ada cerita baru yang mulai tumbuh. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto ternyata tak cuma soal mengisi piring anak-anak. Di balik itu, geliat ekonomi petani lokal ikut merasakan dampaknya. Permintaan yang lebih stabil, harga yang lebih baik itulah yang kini mereka alami.
Ambil contoh Dukuh Pasah di Desa Senden, Kecamatan Selo. Dulu, para petani di sini bergantung pada pasar tradisional dan tengkulak. Nasib harga sering tak menentu. Kini, selain ke pasar, hasil panen mereka juga diserap oleh dapur-dapur MBG lewat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Ada saluran baru yang memberi mereka napas lega.
Agus Irawan, petani berusia 34 tahun, merasakan langsung perubahan itu. Tomat, brokoli, sawi putih, selada, hingga cabai yang ia tanam, permintaannya melonjak.
"Permintaan tidak hanya dari tengkulak maupun pedagang sayur pada umumnya, tapi juga diserap oleh program MBG," ujar Agus di Boyolali, Selasa lalu.
Baginya, ini berkah. Harga jual sayur-mayur yang ia tanam naik signifikan, berkisar 40 sampai 60 persen tergantung jenisnya. Kenaikan itu tentu membawa angin segar. "Membuat kami senang dan bersemangat lagi bertani," katanya. Ia melihat kerja kerasnya kini juga turut menopang gizi anak-anak.
Dukungan lain datang dari pemerintah. Bantuan pupuk NPK dan ZA dari Dinas Pertanian Jawa Tengah turut mendongkrak semangat dan produktivitas.
"Kami mendapatkan pupuk NPK dan juga pupuk ZA," jelas Agus.
Bantuan itu dimanfaatkan dengan strategis. Mereka berencana mengalokasikannya untuk menambah luas tanam sayur, sebagai persiapan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan datang pada Agustus nanti. "Jadi meskipun nanti di bulan-bulan Agustus itu ada musim kemarau, kami juga masih menanam untuk bisa menyuplai program MBG," tambahnya.
Di sisi lain, cerita serupa datang dari Dianto, anggota Kelompok Tani Ngudi Santoso. Menurut petani berusia 50 tahun ini, MBG mendorong petani menyesuaikan tanamannya dengan kebutuhan program. Selada, buncis, wortel, sawi, dan brokoli kini lebih banyak ditanam.
Ia juga menyoroti perhatian Pemprov Jateng yang menyalurkan bantuan pupuk dari dana cukai tembakau.
"Bantuan pupuk ini untuk persiapan menanam sayur jelang musim kemarau," ujar Dianto.
Jadi, di Boyolali, program yang bertujuan memerangi stunting ini ternyata punya efek domino yang positif. Perekonomian berputar lebih kencang di tingkat akar rumput. Petani tak lagi merasa sendirian. Mereka punya pasar yang lebih pasti, harga yang lebih terjaga, dan bantuan untuk berproduksi. Semua itu akhirnya membangun satu siklus: dapur MBG butuh pasokan segar, petani menyediakannya, dan anak-anak mendapat gizi yang lebih baik. Sebuah lingkaran yang setidaknya untuk saat ini mulai terasa manfaatnya oleh mereka yang langsung mengolah tanah.
Artikel Terkait
Kasus Suap Impor Bea Cukai Jadi Momentum Perkuat Tata Kelola Sistem
DPR Tolak Wacana PPN Jalan Tol, Pemerintah Tegaskan Masih Tahap Kajian
Jasa Raharja Dorong Kemandirian Perempuan Korban Kecelakaan Lewat Program Pemberdayaan
Gibran Beri Voucher Belanja ke 100 Janda Papua di Hari Kartini