Hingga Selasa (21/4) kemarin, mediator Pakistan masih menunggu. Mereka belum menerima jawaban resmi dari Iran soal partisipasinya dalam putaran kedua pembicaraan dengan Amerika Serikat. Menteri Informasi Islamabad, Attaullah Tarar, mengaku pihaknya masih menanti kepastian dari Teheran.
Lewat sebuah postingan di X, Tarar menulis, "Tanggapan resmi dari pihak Iran tentang konfirmasi delegasi untuk menghadiri Perundingan Perdamaian Islamabad masih ditunggu."
Menurutnya, keputusan Iran ini krusial banget. Waktunya mepet. Gencatan senjata yang sudah disepakati sebelumnya tinggal berhitungan jam lagi sebelum berakhir. Tarar menegaskan, respons Iran bakal menentukan apakah proses diplomasi ini bisa lanjut atau mentok di sini, apalagi mengingat masa jeda dua minggu antara pihak-pihak yang bertikai hampir habis.
Di sisi lain, dari kubu Amerika, nada yang terdengar berbeda. Presiden Donald Trump menyatakan negaranya masuk ke babak negosiasi ini dengan posisi yang kuat. "Kita akan mendapatkan kesepakatan yang hebat. Saya pikir mereka tidak punya pilihan... Kita berada dalam posisi negosiasi yang sangat, sangat kuat," ujar Trump dalam wawancara dengan CNBC.
Rencananya, negosiasi lanjutan ini bakal digelar di Islamabad. Delegasi AS disebutkan akan dipimpin Wakil Presiden JD Vance. Tapi, soal keberangkatan rombongan dari Washington? Belum ada konfirmasi resmi sampai sekarang.
Ini semua adalah kelanjutan dari pertemuan pertama awal bulan, yang juga di Pakistan, dan berakhir tanpa hasil yang konkret. Waktu itu, Trump mendesak Iran untuk menyerahkan cadangan uranium dan menghentikan upaya pengendaliannya atas Selat Hormuz jalur vital untuk pengiriman minyak dunia. Tapi Iran, seperti dilaporkan, menampik syarat-syarat itu.
Sementara itu, tenggat waktu makin dekat. Gencatan senjata antara Iran dengan AS dan Israel, yang berlaku sejak 8 April, dijadwalkan berakhir Rabu malam waktu Washington.
Trump juga menyelipkan isu lain yang ia harap bisa mempengaruhi jalannya pembicaraan. Di media sosial Truth Social, ia menyampaikan pesan kepada Iran: mereka bisa meningkatkan peluang sukses negosiasi dengan membebaskan delapan wanita yang terancam hukuman mati.
"Saya akan sangat menghargai pembebasan para wanita ini," tulisnya.
"Akan menjadi awal yang baik untuk negosiasi kita!" tambah Trump.
Pernyataannya itu disertai repost klaim dari aktivis muda pro-Israel di AS, Eyal Yakoby, yang menyebut delapan wanita tersebut menghadapi hukuman gantung. Yakoby mengunggah foto mereka tanpa menyebutkan nama.
Klaim soal sebagian besar wanita itu belum bisa diverifikasi. Namun, ada satu foto yang menarik perhatian. Foto salah satu wanita dalam unggahan itu ternyata identik dengan gambar yang diterbitkan kelompok hak asasi Hengaw berbasis di Norwegia pada 13 April. Itu adalah foto Bita Hemmati, yang disebut berpotensi menjadi wanita pertama yang dieksekusi terkait gelombang protes di Iran.
Memang, Iran telah melakukan sejumlah eksekusi terhadap orang-orang yang dikaitkan dengan protes anti-pemerintah bulan Januari lalu. Aksi protes yang, menurut para aktivis, ditumpas dengan brutal dan menewaskan ribuan orang serta menangkapi puluhan ribu lainnya.
Kembali ke meja perundingan, Trump sendiri tak memberikan kejelasan dalam wawancaranya dengan CNBC. Ia tidak menjawab tegas apakah akan memperpanjang gencatan senjata jika pembicaraan di Islamabad lagi-lagi stagnan.
Ucapnya hanya singkat, "Iran dapat berada di posisi yang sangat baik jika mereka membuat kesepakatan."
Jadi, semua kini bergantung pada jawaban dari Teheran. Dan waktu terus berjalan.
Artikel Terkait
Kemenag Tegaskan Hoaks Soal Pengambilalihan Pengelolaan Kas Masjid
Mantan Konsultan Kemendikbudristek Buka Suara: Pertemuan dengan Nadiem Murni Bahas Teknologi, Bukan Proyek
Benda Mirip Torpedo Ditemukan di Pantai Sumenep, Warga Dilarang Mendekat
Menkeu Purbaya Tolak Pinjaman IMF-Bank Dunia, Sebut Cadangan USD25 Miliar Cukup