Di tengah riuh acara wisuda Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Selasa lalu, ada satu sosok yang menarik perhatian. Sr Yustina Klun Kolo, seorang suster Katolik, berdiri di podium dengan jubah biarawarinyya. Ia bukan sekadar wisudawan biasa, melainkan perwakilan yang ditunjuk untuk menyampaikan pidato. Perjalanannya menuju gelar D4 Analis Kesehatan itu ternyata punya cerita sendiri.
Asalnya dari Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur, Yustina mengaku sempat galau di awal. Bayang-bayang kuliah di kampus dengan mayoritas muslim sempat bikin khawatir. Tapi ternyata, realitanya jauh berbeda.
"Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif dan penuh toleransi," ujarnya.
Suaranya lantang terdengar di ruangan itu.
"Interaksi dengan dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang."
Kekhawatiran itu pun perlahan mencair. Bahkan, saat harus mempelajari mata kuliah berbasis keislaman, ia justru menemukan nilai-nilai yang dalam. Bagi anak keempat dari tujuh bersaudara ini, itu jadi pelajaran berharga tentang moderasi dan hidup berdampingan. Dukungan dari lingkungan kampus sangat ia rasakan. Para dosen dan staf, menurutnya, bersikap profesional dan adil. Tak ada perlakuan khusus atau justru diskriminasi. Semua mahasiswa diperlakukan sama.
Pengalamannya itu bukanlah hal yang kebetulan. Di sisi lain, UNUSA sendiri memang punya komitmen untuk menciptakan ruang belajar yang terbuka. Kampus ini aktif mendorong nilai-nilai moderasi, baik lewat kurikulum maupun kegiatan sehari-hari.
Kini, setelah lulus, Yustina sudah bekerja di RSK Budi Rahayu, Blitar. Ia mengabdikan ilmunya di sana. Tapi pesan yang ia bawa dari bangku kuliah tetap hidup.
"Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan," tegasnya.
Ia punya harapan sederhana: nilai toleransi yang ia rasakan di kampus bisa menjalar ke tengah masyarakat. Agar perbedaan agama, suku, dan budaya tak lagi jadi tembok, tapi jembatan untuk saling mengenal. Pada akhirnya, semua demi kehidupan yang lebih damai dan harmonis.
Artikel Terkait
Pemerintah Diversifikasi Pasokan Energi dan Pupuk Antisipasi Gejolak Global
Kereta Jakarta-Surabaya Dihiasi Lukisan Seniman Muda, Kolaborasi Kemenparekraf dan KAI
PLN Catat Indeks Kepuasan 89,5 dari Program Pemberdayaan Perempuan Srikandi Movement
Presiden Prabowo dan PM Australia Bahas Ekspor 250.000 Ton Pupuk Urea