MAKASSAR – Deru mesin truk pengangkut gabah sudah tak lagi terdengar. Kini, di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, yang terasa hanya ketenangan. Wajah Ladalle Abdullah, 61 tahun, memancarkan perasaan itu pada Selasa siang (21/4/2026). Impian yang dipendamnya selama empat puluh tahun lebih akhirnya menjelma nyata.
Dia satu dari 387 jemaah asal Sidrap di Kloter 2 Embarkasi Makassar. Tapi, tentu saja, tiket ini bukan hadiah cuma-cuma. Ini adalah hasil dari sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak era 80-an, ketika Indonesia masih berbeda dan upah sopir truk jauh dari kata cukup.
Sementara yang lain mungkin memilih untuk menghabiskan penghasilan, Ladalle mengambil jalan lain. Jalan yang sunyi dan penuh kesabaran.
"Waktu gaji sedikit, seribu dua ribu dikumpul,"
Ucapnya lirih, namun terasa sangat mantap. Kenangan itu seolah masih segar.
Memang, bagi banyak orang, uang seribuan dan dua ribuan itu tak ada artinya. Tapi coba lihat hasilnya sekarang. Di tangan pria yang tekadnya sekeras baja ini, recehan-recehan itu berubah menjadi fondasi yang kokoh. Ia membuktikan satu hal: panggilan ke Tanah Suci bukan monopoli orang berpunya. Itu milik siapa saja yang punya hati teguh dan kesabaran tanpa batas.
Niatnya ia daftarkan secara resmi pada April 2011. Dan ujian kesabarannya belum berakhir. Di depan, masih ada antrean panjang selama 16 tahun. Waktu yang tak sebentar.
Di sisi lain, tahun terus bergulir. Usia tak bisa dibohongi. Truk gabah yang dulu menjadi 'kantornya' setiap hari, perlahan ia tinggalkan. Tenaga tak lagi seperti masa muda. Berbagai keluhan kesehatan pun mulai datang, menjadi teman di masa senjanya.
“Dulu sopir mobil truk waktu mendaftar. Tapi sekarang tidak ada kerja lagi, sudah tua, banyak penyakit,”
Pengakuannya polos, tanpa tedeng aling-aling.
Tahun ini, dia akan berangkat sendiri. Sang istri sudah lebih dulu menunaikan ibadah haji, meninggalkan Ladalle untuk mengejar janjinya sendiri pada Sang Pencipta. Meski raga tak lagi sepenguh dulu dan harus berangkat seorang diri, semangatnya justru berkobar-kobar. Rasanya, perjalanan dari kabin truk yang berdebu menuju kursi pesawat yang akan membawanya ke Mekkah adalah sebuah epik kecil tentang ketekunan.
Kisah Ladalle ini, sederhananya, mengingatkan kita. Tak ada mimpi yang terlalu tinggi. Dan tak ada tabungan yang terlalu kecil, asal diiringi dengan keikhlasan yang tulus. Selamat jalan, Pak Ladalle. Semoga hajimu mabrur.
Artikel Terkait
Polda NTT Musnahkan Ribuan Liter Miras Ilegal di TPA Alak
Wali Kota Surabaya Canangkan Gerakan Dua Jam Tanpa Gawai untuk Pelajar
Brimob Siaga Antisipasi Dampak Sosial Konflik Global
Manchester City Incar Puncak Klasemen dengan Modal Statistik dan Momentum