Iran belum mau ambil keputusan soal kemungkinan kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Pemerintah di Teheran masih menimbang-nimbang, sambil menyoroti sejumlah pelanggaran yang mereka klaim dilakukan AS meski gencatan senjata sudah disepakati.
Menlu Iran, Abbas Araghchi, ngobrol lewat telepon dengan koleganya dari Pakistan, Ishaq Dar, Senin lalu. Mereka bahas isu gencatan senjata itu. Menurut siaran pers Iran, Araghchi bilang negaranya sedang "mempertimbangkan semua aspek" dulu sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Kami akan memutuskan bagaimana melanjutkan,” ujarnya, seperti dikutip AFP, Selasa (21/4/2026).
Di sisi lain, Iran tetap berterima kasih pada Pakistan yang jadi mediator. Tapi, nada bicara mereka keras terhadap Washington. Pernyataan resmi Kemenlu Iran menyebut "tindakan provokatif" dan pelanggaran berulang AS sebagai penghalang besar buat diplomasi. Mereka khususnya menyebut ancaman terhadap kapal dagang Iran dan retorika panas dari pejabat AS yang dinilai kontradiktif.
Meski situasinya tegang, kedua menteri sepakat konsultasi harus terus berjalan demi stabilitas kawasan.
Suara lain datang dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Lewat akun X-nya, dia mengingatkan ketidakpercayaan historis Iran terhadap AS masih sangat dalam.
“Pendekatan tidak konstruktif pejabat AS beberapa hari terakhir cuma bawa pesan pahit: mereka mau Iran menyerah,” tulis Pezeshkian.
Dia menegaskan rakyat Iran takkan tunduk pada paksaan dari luar.
“Rakyat Iran tidak akan tunduk pada paksaan,” tegasnya singkat.
Klaim soal perdamaian ini sebelumnya justru datang dari kubu AS. Presiden Donald Trump bilang ke reporter Fox News, Maria Bartiromo, bahwa AS dan Iran sebentar lagi akan tandatangani perjanjian damai. Lokasinya di Islamabad, Pakistan.
Wawancara telepon itu, dilaporkan Anadolu Agency, tapi waktu pastinya nggak jelas. Trump bahkan ancam kalau kesepakatan nggak jadi, dia akan "meledakkan setiap pembangkit listrik dan jembatan di Iran."
Sebelumnya, di hari Minggu (19/4), Trump umumkan kalau Wakil Presiden JD Vance, plus utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner, akan terbang ke Islamabad. Mereka yang akan jadi ujung tombak negosiasi putaran baru dengan Iran.
Artikel Terkait
DPP Golkar Desak Hukuman Berat untuk Pelaku Penikaman Ketua DPD Maluku Tenggara
Pemerintah Pacu Proyek Gas Nasional, Temukan Cadangan Besar di Kaltim
Mensos Gus Ipul Tinjau Pemanfaatan Bantuan Laptop di Sekolah Rakyat Sigi
Harga Buyback Emas di Pegadaian Bervariasi, Galeri 24 Paling Tinggi