Polemik seputar pernyataan Jusuf Kalla belakangan ini ramai diperbincangkan. Menanggapi hal itu, Majelis Ulama Indonesia akhirnya angkat bicara. Intinya, mereka mengajak semua pihak untuk berhenti berpolemik. Lebih penting lagi, MUI mendorong kita semua untuk menjaga persatuan bangsa.
Menurut sejumlah saksi, Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, Zainut Tauhid Sa'adi, menyampaikan hal ini melalui keterangan tertulis pada Senin lalu.
“MUI meyakini bahwa sebagai tokoh bangsa yang memiliki jasa besar dalam sejarah perdamaian Indonesia, pernyataan Bapak Jusuf Kalla perlu dipahami dalam konteks sejarah yang utuh dan komprehensif, bukan sebagai upaya menghidupkan sentimen negatif,” tegasnya.
“Kami memandang pentingnya pelurusan konteks agar masyarakat tidak terjebak pada interpretasi yang menyimpang dari maksud aslinya.”
Zainut kemudian menambahkan satu poin krusial. Baginya, sejarah perjalanan bangsa ini seharusnya jadi sumber kearifan, bukan bahan perdebatan yang tak berujung. Setiap peristiwa masa lalu, katanya, mesti diambil hikmahnya oleh semua pihak.
Di sisi lain, situasi kebangsaan yang kondusif harus dijaga. MUI pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk selalu memilih kata-kata yang menyejukkan dan mempersatukan.
“Kedewasaan kita dalam berbangsa tercermin dari kemampuan kita mengubah setiap dinamika menjadi energi positif yang memperkokoh persatuan nasional,” ujarnya.
Harapannya jelas. Setiap tutur kata di ruang publik, bisa jadi kontribusi nyata bagi perdamaian. Bukan sebaliknya.
Artikel Terkait
Semarang Siap Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional ke-31 pada September 2026
Anggota DPR Ingatkan Bahaya Penyusutan Aset Sitaan, Usul Bentuk Badan Khusus
Saksi Ungkap Asal-Usul Julukan Sultan Kemnaker di Sidang Tipikor
Polisi Ungkap Motif Balas Dendam di Balik Penusukan Ketua Golkar Maluku Tenggara