Ekspor Unggas Indonesia Tembus Rp18,2 Miliar di Kuartal I 2026

- Senin, 20 April 2026 | 02:45 WIB
Ekspor Unggas Indonesia Tembus Rp18,2 Miliar di Kuartal I 2026

Nilai ekspor unggas Indonesia ternyata melesat. Hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2026, angka yang tercatat sudah mencapai Rp18,2 miliar. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melihat ini sebagai bukti nyata bahwa produksi dalam negeri benar-benar surplus, sekaligus sinyal kuat bahwa produk peternakan lokal makin diperhitungkan di luar negeri.

“Pada Maret 2026 Indonesia mengekspor 545 ton produk unggas senilai Rp18,2 miliar ke negara tujuan seperti Singapura, Jepang, dan Timor Leste,” jelas Amran di Jakarta, Minggu.

Kalau dirinci, sebagian besar ekspor itu didominasi telur konsumsi sekitar 517 ton atau setara 8,13 juta butir. Sisanya? Itu gabungan antara daging ayam segar dan produk olahan yang punya nilai tambah lebih tinggi.

Yang menarik, trennya konsisten naik. Bayangkan, realisasi di tahun 2024 masih sekitar 300 ton dengan nilai kurang lebih Rp11 miliar. Lalu naik di 2025 jadi sekitar 400 ton, bernilai Rp13 hingga Rp15 miliar. Dan sekarang, di kuartal pertama 2026 saja, sudah tembus 545 ton. Perkembangannya cukup signifikan.

Amran tak ragu menyebut ini buah dari swasembada.

“Sekarang ini kita sudah swasembada telur, ayam, beras, dan seterusnya. Nah ini kita dorong ekspor ke negara-negara lain,” ujarnya.

Memang, tak cuma soal volume. Ada pergeseran struktur yang patut disimak. Ekspor mulai merambah ke produk olahan seperti nugget atau karaage. Pergeseran ini jelas mendongkrak nilai tambah dan bikin industri perunggasan kita makin kompetitif.

Semua tentu ditopang produksi nasional yang kuat. Angkanya cukup meyakinkan: produksi daging ayam ras 4,29 juta ton, sementara konsumsi setahun ‘hanya’ 4,12 juta ton. Untuk telur ayam ras, produksinya 6,54 juta ton dan konsumsi 6,47 juta ton. Ada selisih yang lumayan.

“Dengan kondisi surplus memungkinkan ekspansi pasar tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri,” tutur Amran.

Di sisi lain, Kementan tak tinggal diam. Mereka terus memperketat sistem kesehatan hewan, biosekuriti, dan urusan sertifikasi veteriner. Tujuannya satu: memastikan produk yang dikirim memenuhi standar internasional. Diplomasi dagang dan pembukaan akses pasar baru juga digenjot.

Ke depan, targetnya jelas. Ekspor ayam dan telur harus terus meningkat, baik volumenya maupun nilainya. Strateginya lewat hilirisasi dan penguatan industri pengolahan. Langkah ini sekaligus jadi cara untuk menjaga stabilitas harga di tingkat peternak dan memperkokoh posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

“Dengan tren pertumbuhan yang konsisten, Indonesia kini tidak hanya swasembada, tetapi mulai menegaskan diri sebagai eksportir unggas yang diperhitungkan di pasar dunia,” pungkas Amran.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar