IATA Pangkas Proyeksi Laba Industri Penerbangan Global 2026 Hingga Setengahnya Akibat Konflik Iran-AS

- Senin, 08 Juni 2026 | 12:50 WIB
IATA Pangkas Proyeksi Laba Industri Penerbangan Global 2026 Hingga Setengahnya Akibat Konflik Iran-AS

Asosiasi transportasi udara internasional, IATA, memangkas proyeksi laba bersih industri penerbangan global untuk tahun 2026 hingga hampir separuh dari perkiraan awal, sebuah sinyal bahwa dampak konflik geopolitik masih membayangi sektor ini. Proyeksi baru tersebut menyebutkan laba bersih hanya mencapai sekitar 23 miliar dolar AS, jauh di bawah angka 41 miliar dolar AS yang sebelumnya ditargetkan. Realisasi laba pada tahun lalu bahkan tercatat lebih tinggi, yakni 45 miliar dolar AS.

Penyebab utama pemangkasan ini adalah konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat yang memicu lonjakan harga avtur. Kenaikan biaya bahan bakar membuat maskapai di seluruh dunia beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis. Meskipun permintaan penumpang masih berada pada tingkat normal, tekanan biaya operasional terbukti menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan kinerja keuangan.

Direktur Umum IATA, Willie Walsh, menjelaskan bahwa ada dua faktor utama yang mendorong revisi proyeksi ini. “Pertama, kenaikan harga avtur yang ternyata lebih tinggi dari perkiraan banyak orang. Lalu hambatan pada maskapai di wilayah Semenanjung Arab. Jadi kombinasi kedua faktor ini membuat kami memangkas proyeksi,” ujarnya.

Walsh juga memperingatkan bahwa sejumlah maskapai kecil berpotensi bangkrut atau diakuisisi oleh pemain besar dalam waktu dekat. Spirit Airlines menjadi salah satu contoh maskapai yang tumbang akibat tekanan perang Iran-AS. Di sisi lain, maskapai besar seperti Lufthansa Group telah mengambil langkah efisiensi dengan memangkas 20.000 rute penerbangan jarak pendek yang dianggap kurang menguntungkan. Langkah ini memungkinkan Lufthansa menghemat 40.000 ton avtur.

Konflik yang tak kunjung mereda juga memaksa maskapai mengalihkan rute penerbangan, sehingga durasi dan jarak tempuh semakin panjang. Kondisi ini secara langsung meningkatkan konsumsi bahan bakar di tengah biaya operasional yang sudah tinggi. Maskapai dari Semenanjung Arab, seperti Qatar Airways, Emirates, dan Etihad, menghadapi situasi paling berat setelah wilayah udara setempat ditutup total pada awal peperangan. Walsh menyatakan bahwa maskapai-maskapai tersebut sangat mungkin mencatatkan kerugian akibat imbas perang dan melemahnya permintaan.

IATA memperkirakan total biaya avtur yang harus ditanggung seluruh maskapai anggotanya tahun ini mencapai sekitar 350 miliar dolar AS. Angka ini melonjak drastis dibandingkan biaya avtur pada 2025 yang hanya sebesar 252 miliar dolar AS. Kombinasi antara harga bahan bakar yang tinggi, gangguan rute, dan ketidakpastian geopolitik menjadi tantangan besar bagi pemulihan industri penerbangan global.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar