Video Kucing Deteksi Gempa Jepang Viral, Ilmuwan Ungkap Penjelasannya

- Jumat, 31 Juli 2026 | 14:25 WIB
Video Kucing Deteksi Gempa Jepang Viral, Ilmuwan Ungkap Penjelasannya

Rekaman kamera pengawas memperlihatkan seekor kucing yang tiba-tiba panik dan lari meninggalkan kamar sesaat sebelum gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, Selasa (28/7/2026). Video tersebut viral di media sosial dan memicu kembali perbincangan tentang kemampuan hewan merasakan bencana.

Dalam rekaman itu, kucing yang semula berbaring tenang di atas kasur tampak terbangun dan langsung melarikan diri. Beberapa detik kemudian, guncangan kuat terjadi dan bangunan tempat kucing itu berada dilaporkan hancur. Kepekaan hewan tersebut menuai kekaguman warganet, sebagian bahkan menilai insting kucing bisa menjadi alarm dini bagi manusia.

Pertanyaan apakah hewan dapat memprediksi gempa memang telah lama diteliti para ilmuwan Jepang. Sejumlah kelompok riset berpendapat, hewan mungkin mendeteksi perubahan lingkungan yang sangat halus sebelum tanah berguncang. Namun, bukti ilmiah yang ada saat ini dinilai belum cukup untuk memastikan kemampuan tersebut secara andal.

Reaksi Hewan terhadap Gelombang Seismik

Penjelasan yang lebih masuk akal datang dari analisis video kafe kucing di Osaka, Jepang, pada 2018. Dalam rekaman itu, banyak kucing serentak mengangkat kepala dan tampak waspada sekitar 10 detik sebelum gempa terasa. Tim peneliti dari Institut Geofisika dan Vulkanologi Italia (INGV) menyebut, kucing-kucing itu bukan "mengetahui" gempa, melainkan merasakan gelombang P gelombang primer yang merambat paling cepat dan muncul pertama kali saat gempa terjadi.

Gelombang P biasanya lemah dan sulit ditangkap manusia, tetapi hewan dengan pendengaran dan persepsi getaran lebih tajam bisa mendeteksinya lebih awal. Baru setelah gelombang S tiba, getaran terasa kuat dan manusia mulai menyadarinya. Hipotesis lain menyebut hewan mungkin bereaksi terhadap perubahan medan listrik, medan magnet, atau tekanan udara. Namun, para seismolog menekankan hipotesis ini belum terbukti lewat studi berulang berskala besar.

Banyak ahli juga mengingatkan bahwa reaksi hewan kerap terjadi setelah gelombang P mencapai permukaan artinya gempa sudah mulai berlangsung, hanya saja manusia belum merasakannya. Karena itu, perilaku hewan tidak bisa dijadikan alat prediksi gempa beberapa menit atau jam sebelumnya.

Catatan Sejarah dan Misteri yang Belum Terpecahkan

Kisah tentang hewan yang mengantisipasi gempa sebenarnya sudah tercatat sejak 373 SM. Sejarawan Yunani kala itu menulis, tikus, ular, dan musang berbondong-bondong meninggalkan kota Helice beberapa hari sebelum gempa menghancurkannya. Cerita serupa terus muncul selama berabad-abad: ikan lele bergerak tak menentu, ayam berhenti bertelur, lebah meninggalkan sarang dengan panik.

Banyak pemilik hewan peliharaan mengaku pernah melihat kucing atau anjingnya bertingkah aneh sebelum gempa menggonggong tanpa sebab, merengek, atau tampak gelisah. Meski demikian, perilaku abnormal hewan hingga kini masih menjadi misteri. Andy Michael, ahli geofisika dari USGS, mengatakan hewan bereaksi terhadap begitu banyak rangsangan dari rasa lapar, mempertahankan wilayah, hingga predator sehingga sulit merancang studi terkontrol untuk memastikan sinyal gempa dari perilaku mereka.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags