Franco Baresi Meninggal Dunia, Legenda AC Milan dan Timnas Italia Tutup Usia di 66 Tahun

- Jumat, 31 Juli 2026 | 15:15 WIB
Franco Baresi Meninggal Dunia, Legenda AC Milan dan Timnas Italia Tutup Usia di 66 Tahun

Franco Baresi, legenda AC Milan dan tim nasional Italia, meninggal dunia pada usia 66 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia sepak bola, khususnya bagi klub yang dibelanya selama 20 musim. Penampilan terakhirnya di hadapan publik terjadi pada 6 Februari 2026, saat ia menjadi pembawa obor dalam pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina di San Siro.

Baresi memulai perjalanan kariernya di Milan pada 1973, ketika ia tiba sebagai anak yatim berusia 13 tahun. Sempat ditolak Inter Milan karena dianggap terlalu kurus, ia justru diterima di skuad muda AC Milan tiga tahun kemudian. Sejak itu, ia mengabdi selama dua dekade dan menjadi simbol kesetiaan serta kepemimpinan di lini belakang.

Karier Gemilang dan Rivalitas Bersaudara

Selama kariernya, Baresi mengoleksi berbagai gelar, termasuk Piala Dunia 1982 bersama Italia dan sejumlah trofi domestik serta Eropa sebagai kapten AC Milan. Ia juga menjadi bagian penting dari rivalitas sengit Derby della Madonnina, di mana ia kerap berhadapan dengan kakaknya, Giuseppe Baresi, yang membela Inter Milan. Meski bersaing ketat, hubungan keduanya tetap penuh rasa hormat.

Inter Milan pun memberikan penghormatan resmi melalui pernyataan yang menyebut Baresi sebagai salah satu figur yang paling mendefinisikan sejarah derby Milan. "Dengan kepergian Franco Baresi, kita kehilangan salah satu sosok yang, melalui konsistensi dan kualitasnya, telah membentuk sejarah derby Milan. Kapten Milan, pemain tim, panji klub, ia membangun kariernya dengan kemampuan membaca permainan bertahan dan kepemimpinan yang diakui bahkan oleh lawan-lawannya. Dalam 35 derby melawan Inter, namanya menjadi sinonim ketenangan dan keandalan dalam rivalitas yang selalu intens namun sportif," tulis mereka.

Kepemimpinan di Lapangan

Kepemimpinan Baresi tidak hanya terlihat dari ban kapten, tetapi juga dari kemampuannya mengatur rekan setim. Dalam final Liga Champions 1994 melawan Barcelona, ia memberikan instruksi taktis langsung kepada para pemain. Ia meminta Donadoni untuk terus menyerang dari sisi sayap, sementara kepada Filippo Galli dan Paolo Maldini ia memberi arahan untuk menjaga ketat Romario dan menaikkan garis pertahanan.

Saat Maldini sempat mempertanyakan instruksi tersebut, Baresi dengan tegas menjawab, "Tidak, kamu yang melakukannya, Paolo." Pelatih Fabio Capello pun menyerahkan sepenuhnya kepemimpinan di lapangan kepada Baresi. "Kapten sudah mengatakan semuanya, mari kita angkat piala," ujar Capello.

Keberanian Baresi juga teruji di final Piala Dunia 1994, di mana ia tampil habis-habisan meski baru menjalani operasi meniskus. Romario, lawannya saat itu, mengenang, "Setiap kali aku berbalik atau menerima bola, dia selalu ada di sana."

Perjuangan Melawan Penyakit

Di akhir hayatnya, Baresi berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Ia pernah mengungkapkan, "Hal tersulit dari penyakit adalah menerima bahwa segalanya berubah dalam sekejap. Menjadi atlet membantuku untuk bertarung, dan tubuhku memungkinkanku untuk bertahan dan terus maju. Lagipula, itulah yang kulakukan sepanjang hidupku: aku selalu berjuang, di dalam dan di luar lapangan."

Ia juga merasakan dukungan besar dari publik. "Orang-orang tahu apa yang terjadi padaku, dan aku tahu mereka tahu. Kehangatan penonton datang padaku dengan sangat kuat," katanya.

Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasinya, Pemerintah Kota Milan telah menganugerahkan penghargaan tertinggi Ambrogino d'Oro pada 7 Desember 2021.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags