Franco Baresi, legenda sepak bola Italia, mengawali perjalanan kariernya dari kehidupan sederhana di desa Travagliato. Sebelum menjadi salah satu bek terbaik dunia, ia harus melewati masa kecil yang penuh keterbatasan fisik dan ekonomi, hingga akhirnya diterima di akademi AC Milan pada percobaan ketiga.
Masa kecil Baresi diwarnai kebiasaan bermain sepak bola tanpa alas kaki di halaman rumah pedesaan bersama saudara-saudaranya. Sepatu terbaik yang dimilikinya sengaja disimpan agar tidak cepat rusak. Nilai-nilai kedisiplinan dan pengorbanan ia pelajari dari lingkungan sekolah serta tempat ibadah setempat.
Kehidupan Baresi semakin teruji ketika ibunya, Regina, meninggal dunia saat ia berusia 13 tahun. Empat tahun kemudian, ayahnya, Terzo, wafat akibat kecelakaan mobil. Pelatih U.S.O Travagliato saat itu, Guido Settembrino, berjanji kepada almarhum ibu Baresi untuk membimbing Beppe dan Franchino, julukan Franco Baresi semasa muda.
Baresi sempat ditolak Inter Milan karena tubuhnya dianggap terlalu kecil dan kurus, sementara saudaranya Beppe justru diterima. Settembrino kemudian membawa Baresi mencoba peruntungan ke AC Milan sebanyak tiga kali hingga akhirnya klub rossoneri tersebut bersedia menerimanya.
Setelah sukses sebagai pesepak bola profesional dan menjabat sebagai Brand Ambassador AC Milan, Baresi sempat kembali ke kampung halamannya untuk meresmikan sekolah sepak bola. Di sana, ia ikut bermain bersama anak-anak lokal dan memberikan motivasi tentang perjuangan mengejar impian.
"Ini tidak penting," ujar Franco Baresi, Legenda AC Milan.
Baresi membagikan pandangannya mengenai esensi kebahagiaan dalam bermain sepak bola serta perubahan dinamika olahraga tersebut dari masa ke masa.
"Kepada anak-anak, saya ingin mengatakan bahwa terkadang impian bisa menjadi kenyataan. Saya adalah buktinya. Tidak penting di mana Anda bermain, tetapi dengan siapa dan seberapa bahagia Anda. Itulah esensinya, saat masih muda saya bermain lama karena itu adalah bahan bakar hidup saya. Zaman berubah, semua orang bilang sepak bola sudah berbeda. Saya tidak berpikir demikian: di luar lapangan kepentingannya memang telah berubah, tetapi di dalam lapangan semuanya tetap sama," ujar Franco Baresi, Legenda AC Milan.
Fasilitas lapangan olahraga di oratorio tempat Baresi mengawali kariernya tersebut dibangun dengan dukungan dana anonim, sebelum saudaranya Beppe Baresi juga menutup kariernya di lokasi yang sama melalui pertandingan veteran.
Artikel Terkait
Franco Baresi Akui Penasaran dengan Karier Kepelatihan
Kenangan Franco Baresi: Dari Pujian Maradona hingga Kasih Sayang Berlusconi
Franco Baresi Meninggal Dunia di Usia 66 Tahun
Manchester United Kejar Rafael Leao di Tengah Bantahan Fenerbahce