Perang Babi: Insiden Hewan Ternak yang Hampir Picu Konflik AS-Inggris

- Minggu, 19 April 2026 | 20:10 WIB
Perang Babi: Insiden Hewan Ternak yang Hampir Picu Konflik AS-Inggris

Pernah dengar dua negara adidaya nyaris berperang gara-gara seekor babi? Kedengarannya seperti lelucon, tapi itu benar-benar terjadi antara Amerika dan Inggris. Semua berawal dari sebuah pulau bernama San Juan, yang meski jadi bagian AS, statusnya agak abu-abu.

Ceritanya begini. Tanggal 15 Juni 1859, seorang penggarap liar bernama Lyman Cutlar mendapati tamu tak diundang di kebun kentangnya. Seekor babi sedang asyik melahap hasil tanamannya yang susah payah dia rawat. Babi itu datang berulang kali, dan Cutlar pun jengkel. Uang sepuluh dolar untuk bibit kentangnya rasanya lenyang begitu saja.

Kesabarannya habis. "Atas dorongan sesaat," akunya kemudian, "saya mengambil senapan saya dan menembak babi itu."

Setelah emosi mereda, Cutlar menyadari kesalahannya. Ternyata, lahan garapannya berada di area sengketa yang dikelola Perusahaan Teluk Hudson dari Kanada. Pemilik babi itu adalah Charles Griffin, seorang agen perusahaan tersebut.

Cutlar berusaha berdamai. Dia menawarkan ganti rugi, baik dengan hewan ternaknya sendiri maupun uang tunai. Tapi tawaran itu malah memantik amarah Griffin.

Griffin tak terima. Dia langsung menyerang identitas Cutlar sebagai orang Amerika.

"Kalian orang Amerika hanyalah pengganggu di pulau ini, dan kalian tidak punya urusan di sini," hardik Griffin.

Nada ancaman pun mulai terdengar. Griffin mengancam akan menangkap Cutlar dan membawanya ke pengadilan di Victoria. Situasi yang awalnya cuma soal binatang piaraan, tiba-tiba berubah jadi bara dalam sekam konflik perbatasan yang sudah lama membara antara Washington dan London.

Memang, akar masalahnya sudah ada jauh sebelumnya. Perjanjian Oregon tahun 1846 sebenarnya sudah menetapkan batas di Garis Lintang ke-49. Tapi perjanjian itu gagal mengatur secara jelas siapa yang berkuasa di Kepulauan San Juan. Jadi, statusnya tetap kabur dan jadi sumber ketegangan.

Nah, kematian babi malang itu ibarat percikan api di tumpukan jerami. Para pemukim Amerika merasa terancam dan segera minta bantuan militer. Permintaan mereka dikabulkan.

Pada 27 Juli 1859, dari Fort Bellingham, Brigadir Jenderal William Harney mengirim 66 prajurit. Pasukan itu dipimpin oleh seorang perwira yang kelak terkenal dalam Perang Saudara Amerika: Kapten George Pickett. Mereka datang dengan tekad bulat, siap bertempur mati-matian.

Melihat ini, pihak Inggris tak tinggal diam. James Douglas, Gubernur British Columbia, langsung mengerahkan tiga kapal perangnya ke perairan sekitar pulau. Kedua belah pihak saling berhadapan, senjata terhunus, dalam situasi genting yang hampir memicu perang terbuka. Semua bermula dari seekor babi yang lapar.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar