Tim SAR Natuna Uji Repeater di Puncak Gunung Ranai untuk Pastikan Sistem Komunikasi Darurat

- Minggu, 19 April 2026 | 16:15 WIB
Tim SAR Natuna Uji Repeater di Puncak Gunung Ranai untuk Pastikan Sistem Komunikasi Darurat

Puncak Gunung Ranai yang sepi, dengan ketinggian lebih dari seribu meter di atas permukaan laut, menjadi saksi kegiatan penting akhir pekan lalu. Di sana, tim gabungan dari Kantor SAR Natuna dan TNI sibuk memeriksa sebuah perangkat vital: repeater komunikasi. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 18 April 2026 itu bukan sekadar rutinitas, tapi upaya memastikan nyawa sebuah sistem penyelamatan.

“Kantor SAR Natuna melaksanakan pengecekan dan pengujian fungsi repeater di Gunung Ranai guna memastikan keandalan sistem komunikasi dalam setiap pelaksanaan operasi,” jelas Kepala Kantor SAR Natuna, Abdul Rahman, seperti dilaporkan Antara, Minggu (19/4/2026).

Lima personel SAR, dibantu tiga anggota TNI, terlibat langsung. Mereka mendaki, mengecek, dan menguji. Perangkat yang diuji itu fungsinya sederhana tapi krusial: menerima sinyal lemah, lalu memperkuat dan memancarkannya kembali. Bagi tim SAR di daerah terpencil, alat ini adalah penjaga nyawa.

Repeater ini adalah tulang punggung komunikasi kita di lapangan,” tegas Rahman.

Dia melanjutkan, dengan alat yang berfungsi optimal, koordinasi antara tim di lapangan, posko, dan petugas siaga bakal jauh lebih lancar. Itu artinya, respons terhadap keadaan darurat bisa lebih cepat dan tepat.

Kehadiran personel dari Peleton Komunikasi Batalyon Komposit 1/Gardapati TNI ini juga punya makna tersendiri. Menurut Rahman, ini adalah wujud nyata sinergi antar-instansi. Kolaborasi semacam ini penting, apalagi di wilayah perbatasan seperti Natuna. Ia mengacu pada amanat UU No. 29 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan SAR yang terpadu.

“Dukungan dari rekan-rekan TNI menjadi kekuatan kita untuk memberikan pelayanan yang cepat dan tepat kepada masyarakat,” ujarnya.

Syukurlah, hasil pengujian membawa kabar baik. Repeater di puncak Gunung Ranai dinyatakan dalam kondisi optimal. Setelah pekerjaan selesai, tim pun turun gunung dengan selamat pada hari yang sama.

Ritme kegiatan seperti ini mungkin tak banyak dilihat publik. Tapi di baliknya, ada upaya sunyi memastikan bahwa jika saat genting tiba, suara minta tolong dari mana pun di wilayah itu, tetap akan terdengar.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar