Suasana di Persimpangan Horev, Haifa, Sabtu lalu, sama sekali tidak biasa. Ratusan orang memadati kawasan itu, bukan untuk sekadar berkumpul, melainkan untuk menyuarakan penolakan. Spanduk-spanduk anti-pemerintah mereka kibarkan, dengan satu tuntutan yang jelas: hentikan perang di Lebanon.
Menurut laporan surat kabar Yedioth Ahronoth, aksi ini memang sengaja digelar untuk mendesak pemerintah. Suara mereka ingin didengar, di tengah makin banyaknya kritik internal soal cara negara menangani konflik ini dan segala dampak buruknya.
Namun begitu, gelombang protes ternyata tak cuma terjadi di Haifa. Di sisi lain, tepatnya di Persimpangan Karkur, wilayah Wadi Ara yang terletak di tenggara Haifa, ratusan peserta lain juga melakukan hal serupa. Seperti dilaporkan Anadolu Agency, Minggu (19/4/2026), semangat mereka sama: menuntut perdamaian.
Yang menarik, unjuk rasa ini justru terjadi saat dukungan publik Israel terhadap perang terlihat masih kuat. Jajak pendapat media pekan lalu, misalnya, menunjukkan angka 77 persen warga masih mendukung serangan dilanjutkan. Hanya 12 persen yang setuju dihentikan, sementara 11 persen sisanya memilih tidak berpendapat.
Jadi, ada semacam paradoks di sini. Di satu sisi, protes menuntut penghentian perang. Di sisi lain, mayoritas lewat polling justru berpikir sebaliknya.
Aksi ini juga punya timing yang cukup krusial. Pasalnya, protes berlangsung ketika Israel disebut-sebut terus melanggar gencatan senjata 10 hari dengan Hizbullah. Kesepakatan yang seharusnya mulai berlaku Jumat tengah malam waktu setempat itu, rupanya tak sepenuhnya dihormati.
Militer Israel sendiri punya klaim. Pada hari Sabtu, mereka mengatakan telah mendeteksi pelanggaran kesepahaman di Lebanon selatan dalam 24 jam terakhir. Sebagai respons, mereka mengaku melakukan sejumlah serangan dan menghancurkan infrastruktur di sana.
Konflik yang sudah berlarut-larut sejak 2 Maret ini memang telah meninggalkan luka yang dalam. Data terbaru dari otoritas Lebanon menyebutkan, serangan besar-besaran Israel telah menewaskan lebih dari 2.294 orang. Korban luka mencapai 7.544 jiwa. Yang paling memilikan, lebih dari 1 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka menjadi pengungsi di tanah air sendiri.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada cerita pilu yang mungkin jadi alasan mengapa ratusan orang di Haifa dan Wadi Ara memilih turun ke jalan, meski suara mereka untuk saat ini masih seperti minoritas.
Artikel Terkait
Kementerian PU Kawal Percepatan 93 Sekolah Rakyat Tahap II, Target Rampung Juni 2026
Petani Tegal Temukan Granat Nanas di Kebun Jagung, Tim Gegana Lakukan Evakuasi Aman
Uskup Katolik di Mozambik Tewas Ditembak di Kediaman, Gereja Sebut Kematian Misterius
Kemenhub Percepat Penataan Regulasi Penerbangan Jelang Audit ICAO 2026-2027