Di usia yang tak lagi muda, 76 tahun, Suhardiyono Kibar justru menghadapi pertarungan hidup yang berat. Ia berjuang melunasi utang yang mencapai ratusan juta rupiah. Caranya? Dengan kuas dan kanvas. Bagi Mbah Kibar begitu ia biasa disapa mengemis bukanlah pilihan. Jalan satu-satunya adalah terus melukis.
Utang itu jumlahnya tak main-main: Rp 500 juta atas namanya. Akibatnya, tanah warisan keluarga terancam akan disita oleh bank. Situasi ini cukup membuat siapa pun merasa tertekan.
“Saya profesional saja. Saya nggak perlu didonasi. Saya masih mampu untuk melukis,”
katanya dengan tegas saat kami temui di rumah joglo daerah Ngemplak. Ada kebanggaan dan keteguhan di matanya.
Sebenarnya, melukis sudah menjadi nafas hidupnya selama puluhan tahun. Dari situlah ia menghidupi keluarga. Beberapa karyanya bahkan pernah dipamerkan, termasuk pameran tunggal yang ia selenggarakan beberapa waktu lalu. Namun, hidup tak selalu berjalan mulus.
Di sisi lain, masalah tak cuma datang dari utang. Rumah yang dulu ia tempati di Banguntapan kondisinya memprihatinkan, rusak parah hingga akhirnya ambruk. “Rumah saya ambruk, rusak berat. Kalau hujan itu ngeri,” kenangnya. Bayangkan saja, berteduh di bawah atap yang nyaris runtuh setiap kali hujan mengguyur.
Namun begitu, kini ada secercah ketenangan. Ia sudah pindah ke tempat tinggal yang lebih layak. Yang penting, di rumah barunya ini ia juga punya ruang untuk berkarya. Fasilitas untuk melukis tersedia, memberinya semangat untuk terus bekerja melunasi beban yang menghimpit.
Perjuangan Mbah Kibar ini sungguh luar biasa. Di usia senja, dengan semangat yang tetap menyala, ia memilih untuk bertahan dengan caranya sendiri: melalui setiap goresan cat di atas kanvas.
Artikel Terkait
Korlantas Polri Gunakan Drone ETLE untuk Awasi Lalu Lintas Kemala Run 2026 di Gianyar
Getaran Misterius Guncang Tiga Blok di Desa Cipanas Cirebon, Warga Panik
NEXT Indonesia Center: Ekonomi 2026 Masih Berpeluang Tumbuh di Atas 5 Persen
Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu Ancam Ekosistem Perairan Indonesia