Megawati Ingatkan Bahaya Pangkalan Militer Asing bagi Kedaulatan

- Sabtu, 18 April 2026 | 17:45 WIB
Megawati Ingatkan Bahaya Pangkalan Militer Asing bagi Kedaulatan

JAKARTA - Di tengah situasi global yang makin panas, Megawati Soekarnoputri kembali menyuarakan pesan yang diusung ayahandanya puluhan tahun silam. Presiden kelima RI sekaligus Ketua Umum PDI-P itu menilai, gerakan menolak pangkalan militer asing masih sangat relevan untuk Indonesia hari ini. Bahkan, menurutnya, situasi sekarang justru membuat pesan itu makin penting.

Megawati punya alasan kuat. Keberadaan pangkalan militer negara lain di suatu wilayah, dalam pandangannya, bisa menjadi pintu masuk intervensi yang menggerogoti kedaulatan. Ia melihat fakta-fakta di lapangan yang mengkhawatirkan.

“Berbagai intervensi kedaulatan suatu negara merdeka dan berdaulat di Amerika Latin dan Timur Tengah akhir-akhir ini dapat terjadi dengan cepat karena adanya pangkalan militer asing di suatu negara,” ujar Megawati.

Pernyataan itu disampaikannya dalam seminar peringatan Konferensi Asia-Afrika di Sekolah Partai PDI-P, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).

Pandangannya ini bukan tanpa dasar sejarah. Megawati mengingatkan, Indonesia pernah menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) pada 1965. Pengalaman masa lalu itu, rupanya, masih memberikan pelajaran berharga untuk membaca dinamika kekinian.

Memang, kalau kita lihat, dunia sedang tidak baik-baik saja. Megawati sendiri menyoroti gejolak geopolitik yang makin keras. Ia menyebut dua contoh konkret yang mengguncang tatanan internasional.

“Ketika dunia saat ini dihadapkan pada persoalan di Venezuela melalui penculikan Presiden Maduro, dan serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, maka sistem internasional guncang," katanya.

Kondisi semacam itulah yang, baginya, menuntut semua pihak untuk kembali pada nilai-nilai dasar: kesetaraan dan penghormatan antar bangsa. Di sisi lain, Indonesia juga tidak boleh lengah.

Oleh karena itu, Megawati menekankan satu hal. Kekuatan pertahanan kita harus dibangun dengan fondasi yang jelas: berorientasi pada perdamaian dunia dan didukung cara pandang geopolitik yang kuat. Bukan sekadar menumpuk alutsista, tapi punya visi yang mandiri dan berdaulat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar