Benjamin Netanyahu dikabarkan terkejut. Bahkan, ada yang bilang Perdana Menteri Israel itu merasa khawatir. Pemicunya? Sebuah postingan media sosial dari Donald Trump.
Di akun Truth Social-nya, mantan Presiden AS itu menulis dengan nada tegas. "Israel tidak akan lagi membombardir Lebanon," tulisnya. Lalu, dengan huruf kapital, dia menegaskan: "Mereka DILARANG melakukannya oleh AS. Cukup sudah!!!"
Unggahan itu langsung jadi perbincangan hangat. Menariknya, para pejabat Israel konon pertama kali mengetahui pernyataan Trump itu justru dari pemberitaan media. Bukan melalui saluran diplomatik resmi. Hal ini dilaporkan oleh situs Axios, yang mengutip sejumlah sumber.
Reaksinya pun cepat. Pemerintah Israel dikabarkan telah meminta klarifikasi dari Gedung Putih. Mereka ingin tahu maksud sebenarnya di balik pernyataan Trump di platform miliknya itu.
Lalu, apa yang bikin heboh? Ternyata, pernyataan Trump itu dianggap bertolak belakang dengan isi perjanjian gencatan senjata yang baru saja dirilis. Menurut teks resmi dari Departemen Luar Negeri AS yang diterbitkan Kamis lalu Israel tetap punya hak untuk bertindak.
Hak itu jelas: membela diri. Bahkan di masa gencatan senjata sekalipun, Israel boleh melakukan tindakan militer jika ada serangan yang mengancam, baik yang masih direncanakan maupun yang sudah terjadi.
Jadi, situasinya jadi agak rumit. Di satu sisi, ada pernyataan keras dari seorang tokoh politik kunci AS. Di sisi lain, ada dokumen resmi pemerintahnya sendiri yang memberikan ruang bagi Israel. Netanyahu dan kabinetnya pasti sedang mencerna dua sinyal yang berbeda ini.
Artikel Terkait
Polisi Gerebek Lagi Lokasi Pengoplosan LPG di Cileungsi
PDRB Jatim Tembus Rp3.403 Triliun, Kontribusi ke Nasional Capai 14,4%
Gus Ipul: Program Sekolah Rakyat Tunjukkan Hasil, Siswa Lebih Percaya Diri dan Berkarakter
Prodia Resmikan Klinik Stem Cell Pertama, Fokus pada Pengobatan Ortopedi