Pakar Hukum Internasional: Penitipan Uranium Iran ke Rusia Bisa Jadi Jalan Tengah

- Sabtu, 18 April 2026 | 13:15 WIB
Pakar Hukum Internasional: Penitipan Uranium Iran ke Rusia Bisa Jadi Jalan Tengah

Klaim terbaru Donald Trump soal Iran yang mau menyerahkan uranium olahannya bikin banyak orang bertanya-tanya. Proses negosiasi masih berjalan, tapi pernyataan Presiden AS itu sudah memicu spekulasi ke mana-mana. Lantas, mungkinkah skenario semacam itu benar-benar terjadi?

Menurut Prof. Hikmahanto Juwana, pakar hukum internasional, hal itu sangat mungkin. Ia melihatnya sebagai bagian dari terobosan diplomasi, asalkan dilakukan dengan mekanisme yang sah di mata hukum internasional.

Secara teknis, uranium yang udah diperkaya itu nggak bisa begitu saja dihilangkan dari muka bumi. Makanya, opsi yang paling masuk akal ya memindahkan atau menitipkannya ke negara ketiga.

“Sebenarnya uranium yang diperkaya tidak bisa dihilangkan. Oleh karenanya, Rusia bersedia untuk menyimpan uranium yang telah diperkaya milik Iran, sehingga ini bisa menjadi jalan tengah atas kecurigaan AS bahwa Iran akan merakit senjata nuklir,”

Ujar Hikmahanto kepada Metrotvnews.com, Jumat lalu, 17 April 2026.

Mencari Titik Temu

Akarnya sih, konflik AS-Iran ini selalu berkutat pada perbedaan pandangan yang tajam. Di satu sisi, Iran ngotot program nuklirnya cuma untuk damai, misalnya buat pembangkit listrik. Di sisi lain, AS punya kecurigaan kuat bahwa aktivitas itu berpotensi mengarah ke senjata pemusnah massal.

Nah, di tengah kebuntuan itulah, ide penitipan uranium ke pihak ketiga muncul. Hikmahanto menilai, ini bisa jadi kompromi yang menjembatani kepentingan kedua belah pihak. Yang penting, langkahnya dilakukan secara sukarela oleh Iran. Kalau itu terwujud, bisa jadi momentum besar untuk perdamaian.

“Menurut saya, ini merupakan terobosan untuk mencapai perdamaian yang abadi,”

tegasnya.

Jadi, meski terdengar seperti langkah besar, skenario ini punya dasar yang realistis. Tinggal nunggu eksekusinya saja, apakah benar-benar akan diwujudkan atau justru tenggelam lagi oleh dinamika politik yang rumit.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar