Iran Ancam Tutup Kembali Selat Hormuz Menyusul Blokade AS

- Sabtu, 18 April 2026 | 09:45 WIB
Iran Ancam Tutup Kembali Selat Hormuz Menyusul Blokade AS

Sabtu lalu, Selat Hormuz akhirnya dibuka kembali. Ini terjadi setelah ada kesepakatan gencatan senjata di Lebanon yang memberi angin segar. Namun, suasana tenang itu tak berlangsung lama. Pemerintah Iran dengan cepat mengeluarkan pernyataan keras: mereka siap menutup selat itu untuk kedua kalinya. Ancaman itu dilayangkan sebagai respons atas blokade pelabuhan-pelabuhan Iran yang masih terus dilakukan Amerika Serikat.

Di Washington, reaksinya justru penuh optimisme. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan bahwa sebuah kesepakatan perdamaian "sangat dekat". Dia mengklaim, lewat AFP, bahwa Iran telah sepakat untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya mereka sebuah poin krusial dalam seluruh negosiasi yang berlarut-larut ini.

"Kita akan mendapatkannya dengan bekerja sama dengan Iran, dengan banyak ekskavator," ujar Trump dalam pertemuan gerakan konservatif Turning Point USA di Phoenix, Arizona.

Tapi klaim dari Gedung Putih itu langsung dibantah mentah-mentah oleh Tehran. Menurut mereka, persediaan uranium yang diperkaya itu takkan kemana-mana. Bahkan, peringatan yang mereka sampaikan justru lebih keras.

Intinya, jika kapal-kapal perang AS berani mencegat kapal yang berangkat dari pelabuhan Iran, maka konsekuensinya akan serius. Selat Hormuz jalur air sempit yang jadi urat nadi perdagangan minyak global, dilalui seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia bisa kembali dikunci.

Peringatan itu secara eksplisit disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Lewat sebuah unggahan di media sosial X, seperti dilaporkan AFP, dia menegaskan posisi Tehran.

"Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka," tulisnya. Ghalibaf menambahkan satu poin penting: perlintasan melalui perairan itu memerlukan izin dari Iran. Sebuah pernyataan yang jelas-jelas mengingatkan siapa yang memegang kendali di wilayah perairan itu.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar