Dalam kunjungan kerjanya ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyempatkan diri meninjau dua situs penting. Ia melihat langsung kondisi Kompleks Candi Sewu dan Keraton Ratu Boko. Di sana, ia menekankan satu hal: restorasi bangunan candi harus dipercepat.
Memang, Candi Sewu bukan situs biasa. Keberadaannya sudah tercatat sejak lama, tepatnya dalam Prasasti Manjusrigrha dari tahun 792 Masehi. Bayangkan, kompleks ini punya satu candi induk, dikelilingi delapan candi apit, dan dua ratus empat puluh candi perwara. Jumlah yang luar biasa.
Menurut Fadli, potensi tempat ini sangat besar. Namun, untuk mewujudkannya, proses pemugarannya butuh dorongan lebih cepat. Ia menilai perlu strategi yang proaktif.
"Strategi diperlukan secara proaktif mencari dukungan dari berbagai pihak, yakni pemerintah pusat, daerah, dan swasta, untuk mendanai pemugaran lebih lanjut,"
Demikian penjelasannya dalam keterangan tertulis, Sabtu lalu. Komitmen ini, lanjutnya, bukan cuma soal melestarikan batu-batu kuno. Ini investasi strategis. Tujuannya jelas: mendongkrak pariwisata budaya, sejarah, dan religi. Ia berharap upaya ini bisa memberi dampak ekonomi nyata dan membuat Candi Sewu tampil lebih utuh dalam beberapa tahun mendatang.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Sleman. Di atas lahan seluas sekitar 16 hektar, berdiri megah Keraton Ratu Boko. Situs cagar budaya nasional ini juga masuk dalam aset kementeriannya. Posisinya krusial, sebagai simpul warisan sekaligus destinasi wisata.
Daya tarik Ratu Boko memang tak main-main. Arsitekturnya memukau, mulai dari gerbang, petirtaan, hingga pendopo-pringgitan. Yang menarik, situs yang dibangun pada abad ke-8 ini memadukan struktur Hindu dan Buddha dengan begitu otentik. Lanskapnya pun masih sangat asli, seolah membeku dalam waktu.
"Kita berharap semakin banyak masyarakat yang berkunjung ke Keraton Ratu Boko ini. Karena di sini kita bisa menikmati satu perjalanan semacam 'time travel' ke masa lalu dengan peninggalan-peninggalan nenek moyang kita yang luar biasa,"
Ucap Fadli penuh harap. Ia menegaskan, Kementerian Kebudayaan akan terus berupaya menguatkan pelestarian dan pemanfaatan cagar budaya. Ini semua bagian dari strategi besar pembangunan kebudayaan nasional yang berkelanjutan.
Kunjungan kerja menteri itu didampingi sejumlah pejabat. Di antaranya Staf Khusus Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono, Staf Khusus Bidang Protokoler Rachmanda Primayuda, serta para kepala balai pelestarian dan direktur terkait.
Artikel Terkait
BNPP Percepat Penataan Ruang dan Atasi Dampak Sosial di Wilayah Bekas Sengketa Perbatasan
Gunung Semeru Erupsi 6 Kali dalam 6 Jam, Status Tetap Siaga Level III
Peringkat FIFA: Indonesia Tetap di Posisi 122, Kokoh di Tiga Besar ASEAN
Gubernur Lemhannas Tekankan Peran Strategis Ketua DPRD Dukung Visi Indonesia Emas 2045