Ketua MPR Apresiasi Transformasi Krakatau Steel, Sebut Aset Strategis Nasional

- Sabtu, 18 April 2026 | 04:15 WIB
Ketua MPR Apresiasi Transformasi Krakatau Steel, Sebut Aset Strategis Nasional

Kawasan industri PT Krakatau Steel di Cilegon, Jumat lalu, kedatangan tamu penting. Ketua MPR Ahmad Muzani menyambangi pabrik baja nasional itu dalam sebuah kunjungan kerja yang sarat makna. Bagi banyak pengamat, kedatangannya bukan sekadar formalitas. Ini adalah sinyal kuat, sebuah pernyataan dukungan negara terhadap transformasi yang sedang berjalan di tubuh Krakatau Steel Group.

Transformasi itu sendiri, menurut Muzani, sudah membuahkan hasil. Krakatau Steel dinilainya telah berubah menjadi entitas yang jauh lebih lincah dan siap bersaing. “Krakatau Steel Group telah mengalami transformasi besar dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Ini adalah industri baja yang patut kita banggakan sebagai yang terbesar di Indonesia,” ujar Muzani saat meninjau fasilitas perusahaan.

Pujiannya tak berhenti di situ. Di sela-sela kunjungan, politikus senior itu menekankan betapa perusahaan ini adalah aset strategis nasional. Bukan cuma soal bisnis, tapi soal fondasi industri manufaktur dalam negeri. Daya saing baja lokal di pasar global yang ketat, kata dia, sangat bergantung pada keberhasilan Krakatau Steel.

“Kami melihat kemampuan teknologi dan SDM yang dimiliki sangat baik. Dampaknya nyata, Krakatau Steel Group kini mampu mencatatkan laba dan terus memperbaiki pengelolaan keuangannya,” tambah Muzani. Kombinasi antara teknologi mutakhir dan sumber daya manusia yang mumpuni disebutnya sebagai kunci. Tentu saja, dia berharap kinerja positif ini bisa berlanjut agar efisiensi di kancah internasional makin terasa.

Lantas, apa harapan ke depannya? Muzani punya visi yang jelas. Dia memproyeksikan Krakatau Steel bakal menjadi tumpuan utama untuk sejumlah sektor strategis.

“Kebutuhan baja ke depan akan terus melonjak, mulai dari pembangunan infrastruktur, industri otomotif, hingga perkeretaapian. Kami berharap Krakatau Steel Group menjadi tumpuan utama dari seluruh sektor strategis tersebut dan terus melaju sebagai pemimpin industri baja nasional,” ungkapnya.

Visi tersebut sejalan dengan upaya hilirisasi industri yang digaungkan pemerintah. Dengan performa yang terus menguat, Krakatau Steel diharapkan bisa menjawab tantangan kebutuhan material berkualitas tinggi untuk fondasi ekonomi Indonesia di masa datang.

Di sisi lain, respons dari internal perusahaan tak kalah optimis. Direktur Utama Krakatau Steel Group, Akbar Djohan, menyambut hangat kunjungan dan apresiasi itu. Baginya, kepercayaan dari negara adalah semacam katalis.

“Apresiasi dan kepercayaan negara adalah motivasi besar bagi kami untuk terus memacu efisiensi serta memperkuat rantai pasok nasional. Krakatau Steel Group berkomitmen penuh menjalankan peran sebagai aset strategis dalam mewujudkan kemandirian industri nasional,” tegas Akbar.

Dia juga menjelaskan bahwa peta jalan transformasi yang sedang dijalankan selaras dengan program pemerintah. Fokusnya jelas: mendukung industrialisasi dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional lewat sektor baja.

Lebih Dari Sekadar Pabrik Baja

Menariknya, keunggulan Krakatau Steel Group tidak cuma terletak pada produksi baja semata. Akbar menegaskan, mereka membangun sebuah ekosistem industri terpadu yang lengkap. Mulai dari pasokan energi, pengolahan air, hingga konektivitas logistik yang didukung kereta api, jalan tol, dan pelabuhan. Semua terintegrasi dalam satu kawasan.

Dan mereka masih akan berkembang. “Krakatau Steel Group tengah mengembangkan kawasan industri baru di Anyer, Kabupaten Serang, yang difokuskan pada sektor petrokimia dan industri strategis, serta diproyeksikan berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),” jelas Akbar.

Kawasan baru itu rencananya cukup luas. Area awalnya sekitar 400 hektare, dengan potensi berkembang hingga lebih dari 2.000 hektare. Harapannya, kawasan ini bakal jadi magnet investasi baru sekaligus pusat pertumbuhan industri di wilayah barat Indonesia. Sebuah langkah strategis berikutnya yang patut ditunggu.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar