Di Hotel Millenium Sirih, Jakarta Pusat, suasana Silaturahmi Kebangsaan ICMI Jumat lalu terasa hangat. Di antara hadirin, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamuddin menyampaikan sesuatu yang menggelitik. Dunia kita, katanya, sedang berubah dengan cara yang dahsyat. Luar biasa.
Acara yang juga dihadiri Wakil Ketua DPD Tamsil Linrung dan Ketua Umum ICMI Arif Satria itu menjadi panggung bagi Sultan untuk berbagi renungan. Ia melihat peran ICMI di tengah gejolak geopolitik yang tak pasti ibarat "menara air". Sebuah penyeimbang, pemberi kesejukan.
"Bagi saya sebagai orang muda," ujar Sultan,
"ICMI diharapkan bisa meneduhkan situasi. Kita amati tiap hari, kondisi global pasti pengaruhnya ke nasional."
Harapannya jelas: ICMI harus terus melahirkan generasi yang aktif menjaga demokrasi, membuatnya makin baik dan terkendali. Tapi pidatonya tak berhenti di situ. Sultan kemudian menyambung tiga poin dari Prof. Arif Satria yang menurutnya sangat relevan: hati yang bersih, green skill, dan inovasi.
Nah, di sinilah pembahasannya menjadi lebih dalam. Sultan lantas mengajak hadirin merenung. Ia teringat diskusi-diskusi sebelumnya di Bali. "Kadang-kadang saya berpikir, berkontemplasi," katanya. Dan kesimpulannya: perubahan yang terjadi sekarang ini benar-benar menggebrak.
"Bayangkan," sambungnya,
"Kekuatan fisik dan tenaga kita sudah hampir sepenuhnya diambil alih mesin dan robot. Itu fakta."
Namun begitu, itu baru lapisan pertama. Ancaman atau mungkin kemajuan berikutnya justru lebih subtil. Sultan menyoroti kecerdasan buatan atau AI. Sistem ini, menurutnya, sudah melampaui kecepatan berpikir manusia dalam banyak hal.
"Semua ilmu pengetahuan, analisis, hipotesa, ada di sana," ucap Sultan.
"Diarahkan, diambil alih oleh AI. Saya pastikan, ia lebih cepat ketimbang profesor atau doktor sekalipun."
Cukup satu klik, informasi detail apa pun tersaji. Dari pasal-pasal undang-undang hingga temuan saintifik paling rumit. "Kita baru mikir, dia udah keluar," ujarnya menggambarkan betapa cepatnya.
Tapi di tengah gempuran teknologi itu, Sultan melihat satu benteng terakhir yang masih murni milik manusia. Sesuatu yang tak akan pernah bisa direplikasi oleh chip atau algoritma.
"Satu yang hampir pasti tidak bisa digantikan," tegasnya.
"Hati yang bersih. Itu nggak bisa diganti dengan chip."
Pesan itulah yang ia tekankan. Otot dan tenaga? Sudah jadi wilayah robot. Ilmu dan analisis? Kini dipimpin AI, bahkan seringkali selangkah lebih maju. Namun, hati nurani itulah pembeda sejati. Itu yang takkan pernah bisa diambil alih, kapan pun juga.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3.0 Guncang Tapanuli Selatan
DPR Minta Kejelasan Pemerintah soal Nasib RUU Inisiatif, Termasuk Perlindungan PRT
Kades dan Kontraktor Klaten Ditahan Terkait Dugaan Korupsi Dana Renovasi Masjid Rp 203 Miliar
Iran Tegaskan Hak Nuklirnya Tak Bisa Ditawar, Desak AS Tunjukkan Itikad Baik