Di tengah forum para pemimpin BUMD di Ancol, Jumat lalu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan kritik yang cukup tajam. Ia menyoroti sebuah masalah klasik yang ternyata masih saja mengakar: ego sektoral. Menurutnya, ego yang "kegedean" di kalangan pejabat itu sering jadi biang kerok mandeknya komunikasi antar badan usaha milik daerah.
"Problem kita yang paling utama adalah seringkali ego di antara para pejabat, termasuk pejabat BUMD-nya kegedean. Komunikasinya tidak berjalan dengan baik," ujar Pramono.
Acara BUMD Leaders Forum 2026 itu sendiri jadi bukti nyata betapa kolaborasi yang lancar sebenarnya bisa mendatangkan manfaat besar. Namun begitu, kenyataan di lapangan kerap berbeda. Pramono lalu mengambil contoh yang konkret dan berada persis di sekitar lokasi forum.
Ia membandingkan dua aset besar Pemprov DKI yang letaknya berdekatan: kawasan Ancol dan Jakarta International Stadium (JIS). Meski sama-sama milik pemerintah daerah, sinergi antara keduanya dinilai belum optimal. "Padahal Ancol itu mayoritas dimiliki Pemprov DKI, sebelahnya ada JIS juga milik Pemprov. Sudah lama tidak pernah disinergikan," keluhnya.
Akibatnya? Berbagai peluang terlewat. Manfaat bagi perusahaan dan masyarakat pun tidak maksimal. Padahal, dengan komunikasi yang baik, hal itu bisa dihindari.
Kini, upaya integrasi akhirnya mulai digeber. Salah satunya lewat pembangunan jembatan penghubung sepanjang kira-kira 350 meter. Langkah ini diharap bisa menjawab persoalan-persoalan lama, seperti kemacetan luar biasa yang kerap melanda saat ada event di JIS. Pramono punya pengalaman pribadi yang ia ceritakan.
"Waktu itu saya datang dengan Presiden (Joko Widodo), mau nonton konser. Mobil Presiden sampai lebih dari dua jam tidak bisa keluar," ungkapnya, menggambarkan betapa parahnya situasi saat itu.
Ke depannya, Pramono punya harapan jelas. Ia meminta seluruh jajaran BUMD untuk benar-benar menekan ego dan membuka ruang dialog yang lebih transparan. Budaya kerja kolaboratif, menurutnya, adalah kunci.
"Kalau komunikasinya berjalan baik, terbuka, transparan, persoalan bisa dengan mudah dikonsultasikan dan diputuskan," tegasnya.
Pesan itu sederhana, tapi implementasinya butuh komitmen. Soalnya, mengubah pola pikir dan kebiasaan yang sudah mengental bukan perkara sehari dua hari.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Dharma Santi, Ajak Perkuat Persaudaraan
Pemerintah Buka Rekrutmen 30.000 Manajer Koperasi Berstatus BUMN
Trump Apresiasi Pembukaan Selat Hormuz oleh Iran, Tapi Blokade AS Tetap Berlaku
Jembatan Peninggalan Belanda di Klaten Hidup Kembali Setelah 13 Tahun