Sidoarjo Kurangi Beban TPA dengan 209 TPS3R yang Libatkan Warga

- Jumat, 17 April 2026 | 14:15 WIB
Sidoarjo Kurangi Beban TPA dengan 209 TPS3R yang Libatkan Warga

Kabupaten Sidoarjo punya cara tersendiri dalam mengatasi persoalan sampah. Mereka tak hanya mengandalkan truk pengangkut dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semata. Inovasinya berbasis komunitas, lewat program Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle atau yang akrab disebut TPS3R. Pendekatan ini dinilai cukup jitu, karena selain membuat pengelolaan limbah lebih efektif, juga melibatkan warga secara langsung. Jadi, masyarakat tak sekadar jadi penonton.

Menurut Arif Mulyono, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo, strategi ini menjadi kunci untuk mengurangi beban TPA yang selama ini kerap jadi masalah.

"Kami memiliki 209 TPS3R dan sekitar 200 bank sampah di desa-desa. Fokus kami memberdayakan masyarakat melalui TPS3R,"

kata Arif dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/4/2026).

Jadi, bagaimana skemanya? TPS3R ini dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) atau bisa juga oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Mereka lah yang ditunjuk oleh pemerintah desa setempat untuk menjalankan operasionalnya. Dengan begitu, warga yang tadinya cuma buang sampah, kini punya peran aktif. Mereka ikut mengelola sampah di lingkungannya sendiri.

Dalam praktiknya, satu unit TPS3R biasanya melibatkan sekitar delapan orang tenaga kerja dari warga sekitar. Strukturnya cukup lengkap, mulai dari direktur, staf keuangan, sampai petugas lapangan yang bertugas mengangkut dan memilah sampah.

"Tugas TPS3R mulai dari menarik retribusi Rp 20 ribu sampai Rp 35 ribu per KK, pengangkutan sampah, pemilahan, hingga menjual hasil pilahan,"

jelas Arif lebih lanjut.

Bayangkan, dari sekitar seribu kepala keluarga, volume sampah yang masuk bisa mencapai 1.500 kilogram setiap harinya. Sampah-sampah itu kemudian dipilah dengan teliti: organik dan non-organik. Sampah organik diolah menjadi kompos. Sementara yang non-organik, jika masih punya nilai jual, akan dikumpulkan dan dijual kembali oleh pengelola. Sisa yang tak terpakai? Itu yang jadi persoalan berikutnya.

Nah, secara keseluruhan, produksi sampah di Sidoarjo ternyata cukup fantastis: sekitar 1.200 ton per hari. Tapi yang menarik, hanya separuhnya kira-kira 500 sampai 600 ton yang berakhir di TPA. Lalu kemana sisanya? Di sinilah peran TPS3R benar-benar terasa. Mereka berhasil mengurangi volume yang masuk ke pembuangan akhir.

Meski begitu, tetap ada residu. Sekitar 40-50 persen dari hasil pemilahan di TPS3R akhirnya tetap harus dikirim ke TPA Griyomulyo di Kecamatan Jabon. Tapi, angka ini sudah jauh lebih kecil.

"Keberadaan TPS3R menjaga umur TPA kami agar tidak cepat penuh,"

pungkas Arif. Upaya ini memang belum sempurna, tapi setidaknya sudah bergerak ke arah yang lebih baik. Melibatkan masyarakat langsung rupanya membawa dampak yang signifikan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar