Pemkot Jakarta Barat Beri Insentif Rp25 Ribu per Kg untuk Penangkapan Ikan Sapu-sapu

- Jumat, 17 April 2026 | 11:15 WIB
Pemkot Jakarta Barat Beri Insentif Rp25 Ribu per Kg untuk Penangkapan Ikan Sapu-sapu

Petugas gabungan di Jakarta Barat sibuk menangkap ikan sapu-sapu sejak pagi tadi. Operasi ini bukan tanpa alasan. Ikan yang dianggap sebagai hama itu dituding merusak ekosistem kali, bahkan mengancam struktur turap. Yang menarik, para petugas yang berhasil menangkap ikan ini dapat hadiah spesial dari pemkot setempat.

Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, mengumumkan apresiasi berupa uang tunai Rp25 ribu per kilogram ikan yang berhasil ditangkap. Hadiah itu diberikan per grup, bukan per orang, agar bisa dinikmati bersama.

"Kita juga akan ajak mereka refreshing, jalan-jalan ke Ancol," kata Iin, Jumat (17/4/2026).

Hasilnya? Cukup mencengangkan. Dalam waktu kurang dari satu jam, lebih dari 20 kg ikan sapu-sapu sudah berhasil dikumpulkan. Proses penangkapan sendiri masih terus berlanjut. Iin optimis jumlah tangkapan akan bertambah banyak jika jangkauan operasi diperluas.

"Nanti kita bertahap, kita terus menyusuri kali ini. Saya yakin ini akan dapat banyak kalau memang kita lakukan secara lebih luas jangkauannya," ujarnya menambahkan.

Lalu, apa yang terjadi dengan ikan-ikan hasil tangkapan itu? Jangan harap akan dijual atau dikonsumsi. Ikan sapu-sapu justru akan langsung dikubur di Sentra Flora Semanan. Langkah ini diambil untuk mencegah penyalahgunaan, misalnya diselundupkan ke pasar untuk diolah jadi makanan.

Menurut Sekretaris Dinas KPKP Jakarta, Mujiati, kekhawatiran utama adalah populasi ikan sapu-sapu yang hidup di lumpur ini. Jumlah yang tak terkendali berpotensi menggerus bagian bawah turap kali.

“Kalau jumlahnya banyak, dikhawatirkan bisa mengganggu bagian bawah turap karena mereka bersembunyi di lumpur,” jelas Mujiati.

Kepala Seksi Perikanan Suku Dinas KPKP Jakarta Barat, Aas Asih, punya penjelasan lebih gamblang. Ikan sapu-sapu, katanya, bersifat invasif. Mereka berkembang biak dengan sangat cepat di perairan seperti Kali Taman Semanan Indah, sehingga mendesak populasi ikan lokal.

"Jadi, dia berkembang biasanya cepat sekali, sehingga ikan lokal nanti terdesak," ungkap Aas.


Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo meninjau penangkapan ikan sapu-sapu di kawasam Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026). ANTARA/Lifia Mawaddah Putri.

Masalahnya tak cuma sampai di situ. Aas memaparkan, ikan ini punya kebiasaan melubangi dinding untuk membuat liang. Alhasil, turap saluran-saluran di Jakarta bisa cepat rapuh dan rusak.

"Memang sifat ikan sapu-sapu itu, dia melubangi tembok untuk berliang. Jadi, kan nanti bisa merusak turap saluran-saluran yang ada di wilayah Jakarta," kata Aas.

Ada lagi bahaya latennya. Ikan sapu-sapu kerap diburu oknum untuk diolah jadi makanan seperti siomay. Padahal, ini sangat berisiko. Ikan tersebut berpotensi mengandung bakteri berbahaya seperti E. coli atau Salmonella. Yang lebih mengerikan, kandungan logam berat seperti timbal.

"Dikhawatirkan kalau ada masyarakat yang mengkonsumsi itu secara terus-menerus, dia (logam berat) terakumulasi dalam tubuh manusia. Makanya mesti dibasmi," tegas Aas.

Jadi, operasi penangkapan ini bukan sekadar aksi bersih-bersih kali. Lebih dari itu, upaya untuk melindungi infrastruktur dan, yang terpenting, kesehatan warga.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar