Paus Leo XIV Serukan Rekonsiliasi dan Damai dalam Kunjungan Apostolik ke Aljazair

- Jumat, 17 April 2026 | 05:10 WIB
Paus Leo XIV Serukan Rekonsiliasi dan Damai dalam Kunjungan Apostolik ke Aljazair

Langit Aljir cerah ketika Paus Leo XIV mendarat di Bandara Houari Boumediene, Senin lalu. Kunjungan apostoliknya ke Afrika dimulai dari sini, di tanah Aljazair. Hal pertama yang dilakukan? Menyapa dengan hangat. "Assalamualaikum," ucapnya, membuka setiap pertemuan dengan salam khas setempat yang penuh makna.

Namun begitu, agenda resmi dimulai dengan nuansa khidmat. Paus segera berangkat ke Monumen Martir. Di sana, dengan hening, ia memberikan penghormatan kepada para korban perang kemerdekaan Aljazair melawan Prancis, yang berkecamuk dari 1954 hingga 1962. Momen itu terasa sunyi, penuh ingatan.

"Saudara-saudari Aljazair yang terkasih, semoga kedamaian menyertai Anda, assalamualaikum,"

begitu ia membuka pidatonya di hadapan publik. Suaranya tenang namun terdengar jelas.

"Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk mengunjungi negara Anda."

Pesan utamanya jelas: seruan untuk pengampunan dan rekonsiliasi. "Di tempat ini, marilah kita ingat bahwa Tuhan menginginkan perdamaian bagi setiap bangsa," tegasnya. Sebuah ajakan yang terasa sangat relevan, mengingat sejarah panjang yang pernah dilalui negara itu.

Setelah dari monumen, rangkaian acara berlanjut. Paus bertemu dengan Presiden Aljazair di Istana Kepresidenan. Lalu, perjalanan berlanjut ke suatu tempat yang sangat simbolis: Masjid Agung Aljir.

Renungan di Ruang Suci

Begitu masuk ke dalam Masjid Agung, suasana berubah. Paus Leo disambut oleh Imam Mohamed Mamoun al Qasim. Ia lalu diajak berhenti sejenak. Di tengah kemegahan arsitektur masjid itu, Paus tampak merenung, didampingi sang Imam. Sebuah gambar yang powerful tentang dialog.

"Saya berterima kasih atas refleksi ini," ujar Paus kemudian. Ia menggambarkan masjid itu sebagai ruang ilahi, tempat orang datang mencari sang Pencipta. Menurutnya, tempat seperti ini punya peran ganda. Bukan cuma untuk ibadah, tapi juga jadi pusat ilmu pengetahuan. "Pengembangan pengetahuan manusia penting," katanya, "untuk kita lebih memahami ciptaan dan martabat sesama."

Tak lupa, ada sesi foto dan penandatanganan Buku Kehormatan. Paus menuliskan pesan singkat: "Semoga rahmat Yang Maha Tinggi menjaga rakyat Aljazair dan seluruh umat manusia dalam damai dan kebebasan."

Sepanjang kunjungannya, Paus tak sendirian. Ia didampingi dua tokoh kunci: Kardinal George Jacob Koovakad dari Dikasteri Dialog Antaragama, serta Uskup Agung Aljir, Jean-Paul Vesco. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kunjungan ini bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari upaya yang lebih mendalam. Sebuah langkah kecil di Aljazair, dengan harapan yang besar untuk perdamaian.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar