Kemenparekraf dan Starfindo Bahas Strategi Akselerasi Startup Lokal

- Kamis, 16 April 2026 | 16:45 WIB
Kemenparekraf dan Starfindo Bahas Strategi Akselerasi Startup Lokal

Jakarta – Upaya penguatan ekosistem startup dalam negeri terus digenjot. Kali ini, Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) menjadi sorotan setelah menerima kunjungan perwakilan Asosiasi Startup for Industri Indonesia (Starfindo), Rabu (15/4/2026) lalu.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, yang memimpin audiensi itu menegaskan komitmennya. Fokusnya jelas: mendorong para pegiat ekonomi kreatif, terutama startup, agar bisa naik kelas. Caranya? Melalui kurasi yang ketat, komersialisasi kekayaan intelektual, plus membuka akses pasar dan pembiayaan yang lebih lebar.

“Kami di Kementerian Ekraf mengalokasikan 80 persen energi sebagai akselerator,” ujar Riefky.

Pernyataan itu disampaikan melalui keterangan tertulis yang dirilis Kamis pagi. “Tujuannya agar asosiasi seperti Starfindo bisa berkembang mandiri. Ini adalah wujud ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan baru,” tambahnya.

Di sisi lain, Riefky tak menampik adanya tantangan. Subsektor aplikasi dan digital memang tumbuh pesat dan punya prospek cerah. Tapi masalah klasik seperti pendanaan yang terbatas dan perlindungan KI yang belum maksimal masih menghantui. Belum lagi target kontribusi terhadap PDB dan ekspor yang harus dikejar.

Nah, untuk menjawab itu semua, pemerintah membuka pintu kolaborasi. Beberapa program seperti ASTA EKRAF, Ekraf Data, dan Ekraf Bijak disebut-sebut sebagai wadahnya. Kolaborasi lintas sektor ini diyakini bisa memperluas dampak gerakan secara signifikan.

Lalu, apa yang diusulkan oleh Starfindo?

Wakil Ketua Umum mereka, Hembang Nugraha, mengajukan tujuh poin strategis. Isinya beragam, mulai dari urusan regulasi, bisnis, pengembangan teknologi, sampai ke akses pembiayaan dan penguatan SDM. Ekspansi ke pasar global dan kemudahan berkolaborasi juga masuk dalam daftar.

“Intinya sih, kami ingin mendorong kemandirian teknologi,” jelas Hembang.

“Dukungan pemerintah untuk membuka akses kerja sama "business to government" sangat kami harapkan. Dengan begitu, startup bisa berkembang lebih cepat,” katanya lagi.

Perlu diketahui, Starfindo bukan nama baru. Mereka bagian dari ekosistem Kementerian Perindustrian yang sudah membina lebih dari 1.300 startup sejak 2018 lewat program Startup4industry.id. Fokusnya pada bidang-bidang kekinian seperti AI, IoT, dan e-commerce.

Pertemuan itu juga menyentuh isu-isu lain. Misalnya kebutuhan akan insentif fiskal yang lebih menarik, transparansi dalam pengadaan pemerintah, hingga bagaimana memanfaatkan AI untuk mendongkrak inovasi dan efisiensi produksi.

Menanggapi rentetan usulan tersebut, Kementerian Ekraf tak langsung memberi jawaban pasti. Mereka memilih untuk melakukan kajian lebih dalam dulu. Tujuannya, mengidentifikasi peluang kolaborasi mana yang bisa segera dijalankan, tentu saja secara bertahap.

Pertemuan ini seperti jadi penanda. Semangat untuk menyatukan kekuatan antara regulator dan pelaku usaha kreatif tampaknya semakin menguat. Tinggal menunggu realisasi di lapangan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar