Blokade AS di Selat Hormuz Lumpuhkan Ekspor Iran, Ancang Krisis Ekonomi dan Dampak ke Tiongkok

- Kamis, 16 April 2026 | 14:30 WIB
Blokade AS di Selat Hormuz Lumpuhkan Ekspor Iran, Ancang Krisis Ekonomi dan Dampak ke Tiongkok

Data pelacakan kapal terbaru mengonfirmasi satu hal: blokade militer AS di Selat Hormuz benar-benar berjalan. Efeknya langsung terasa. Aktivitas di pelabuhan-pelabuhan Iran nyaris mandek, sepi dari lalu lintas kapal yang biasanya ramai.

Menurut sejumlah analis, situasi ini bakal memaksa Teheran mengurangi produksi minyaknya. Kira-kira dalam waktu 10 sampai 20 hari ke depan. Tanpa ekspor, pemasukan negara akan kering. Imbasnya? Ekonomi Iran berisiko terjungkal ke krisis yang lebih dalam. Brooks, seorang analis dari Brookings Institution, punya pandangan serius.

"Kalau minyak tak bisa dijual dan impor terhenti, aktivitas ekonomi bisa runtuh," ujarnya.

Ia menambahkan, depresiasi mata uang dan inflasi tinggi yang tak terkendali sangat mungkin terjadi. Pada titik itulah, rezim Iran kemungkinan besar tidak punya pilihan lain selain kembali ke meja perundingan dengan niat yang lebih serius.

Di sisi lain, langkah AS ini juga punya dampak berantai yang jauh. Jalur impor minyak Iran ke Beijing, yang sempat masih mengalir meski harganya melambung tinggi, kini terputus total. Padahal, sejak konflik AS-Israel dengan Iran memanas akhir Februari lalu, Tiongkok masih bisa mendapat pasokan dari Iran.

Namun begitu, gejolak itu sudah terlihat dampaknya. Data Bea Cukai Tiongkok yang dirilis Selasa (14 April) menunjukkan pertumbuhan ekspor mereka pada Maret hanya 2,5%. Angka itu jauh lebih rendah dibanding kenaikan 21,8% pada dua bulan sebelumnya sebuah perlambatan yang diduga kuat terkait konflik ini.

Dengan pasokan dari Iran yang kini benar-benar berhenti, tekanan ekonomi bagi Tiongkok makin nyata. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan turun tangan. Lembaga itu pada hari yang sama menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini, meski hanya 0,1 poin persentase. IMF juga mengingatkan soal perlambatan, sektor properti yang lesu, dan ancaman inflasi yang mengintai.

Jadi, blokade di Selat Hormuz bukan cuma soal Iran. Guncangannya merambat, menguji ketahanan ekonomi sebuah raksasa lain di seberang lautan.

Dilaporkan dari Washington DC oleh Ren Hao, reporter NTD.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar