Pertemuan itu disebut sebagai "kesempatan bersejarah". Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, tak menyia-nyiakan kata-kata itu saat menyambut pertemuan langsung antara duta besar Israel dan Lebanon di Washington. Ini adalah pembicaraan diplomatik tatap muka pertama sejak 1993 jeda yang sangat panjang.
"Harapan hari ini," ujar Rubio, "adalah agar kita bisa merumuskan sebuah kerangka kerja. Kerangka yang bisa jadi landasan untuk perdamaian yang aktual, dan langgeng."
Latar belakang pertemuan ini tentu rumit. AS mendesak sekutunya, Israel, untuk mengakhiri operasi militer di Lebanon selatan yang menyasar militan Hizbullah. Tujuannya? Agar Israel bisa lebih fokus pada front lain, terutama setelah perang bersama melawan Iran yang dimulai akhir Februari lalu.
Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyambut baik langkah ini. Pada Selasa (14/04), ia berharap pembicaraan ini bisa "menandai awal dari berakhirnya penderitaan rakyat Lebanon." Penderitaan itu nyata. Ribuan tewas, ribuan lagi terluka, dan lebih dari satu juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Situasi ini memicu perdebatan sengit: haruskah Lebanon ikut dalam gencatan senjata dua minggu antara AS, Israel, dan Iran?
Sementara meja perundingan di AS berlangsung, laporan dari lapangan justru berkata lain. Hizbullah, yang dengan tegas menolak dialog dengan Israel, disebut-sebut malah meningkatkan serangannya.
Musuh yang Sama?
Usai pembicaraan, Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, tampil di depan wartawan. Ada nada optimis yang coba dibangun.
"Kami berada di pihak yang sama dalam persoalan ini," katanya. "Dan itu hal paling positif yang bisa kami dapatkan."
Artikel Terkait
Hari Kartini 2026 Jatuh pada 21 April, Bukan Hari Libur Nasional
Atasan Gadai SK Anggota Satpol PP Bogor, TPP Dipotong Paksa Bayar Kredit Macet
Polri Bentuk Satgas Haji, Fokus Berantas Praktik Ilegal dan Lindungi Jemaah
Tokoh dan Ulama Indonesia Serukan Perdamaian Timur Tengah untuk Jamin Keamanan Haji 2026